Wacana Pemusnahan Babi, DPRD Sumut: Beda Dimusnahkan Beda Dimatikan

MEDAN, KabarMedan.com | DPRD Sumatera Utara menyatakan bahwa wacana pemusnahan babi di Sumatera Utara yang beredar di tengah-tengah masyarakat tidaklah benar (hoaks). Namun demikian, langkah yang diambil adalah untuk mencegah peredaran wabah virus hog cholera dan ASF.

Demikian dikatakan Ketua Komisi B DPRD Sumut Victor Silaen saat menerima pengunjuk rasa yang menolak adanya pemusnahan babi, Senin (10/2/2020).

“Sebenarnya bukan pemusnahan, tapi babi sudah terkena harus dimatikan supaya jangan menular. Beda dimusnahkan beda dimatikan untuk mencegah pemusnahan,” katanya.

Ia menjelaskan, saat ini memang tengah dilakukan peningkatan pengamanan lalu lintas babi di Sumatera Utara. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran virus hog cholera dan ASF ke wilayah lain.

Baca Juga:  SW Polisikan Mantan Pacar Diduga Sebarkan Video Syur Tanpa Izin

“Jadi security areanya harus benar-benar dijaga. Virus ini sangat cepat menular,” ujarnya.

Terkait dengan isolasi daging babi yang diterapkan, katanya, langkah isolasi diambil untuk menjaga agar virus tersebut tidak menyebar ke daerah lain. Sebagai langkah awal, Victor meminta masyarakat untuk melakukan swakelola secara mandiri terlebih dahulu.

Beberapa waktu lalu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumatera Utara, Azhar Harahap mengatakan pemerintah memilih Nias sebagai tempat restocking atau pembibitan babi untuk daerah-daerah yang saat ini terkena virus ASF.

Baca Juga:  Positif Gunakan Narkotika, 27 Orang Pengunjung Hiburan Malam di Sergai Diamankan

Restocking akan dilakukan setelah daerah-daerah yang terjangkit dinyatakan bebas dari ASF. Alasan pemilihan Nias karena, daerahnya terpisah dari daerah yang sampai saat ini tercatat terjadi kematian babi karena ASF. Selain itu, populasi babi di daerah itu ada 275.000 ekor.

Alasan ketiga, kondisi iklim di Pulau Nias relatif sama dengan daerah yang terkena wabah ASF. Ada lima titik restcoking di Pulau Nias, yakni di Kota Gunung Sitoli, Nias Utara, Nias Barat, Nias Selatan, dan Nias. Azhar mengatakan, restocking bibit babi tidak bisa dilakukan sekarang karena akan sia-sia jika nantinya mati. [KM-05]