Pengungsi Banjir De Flamboyan Mulai Batuk dan Gangguan Kulit

Tenaga medis di posko pengungsian di Balai Desa Tanjung Selamat, Senin (7/12/2020). Saat ini pengungsi mulai mengalami batuk dan gangguan kulit, namun ketersediaan obat-obatan lebih dari cukup. Foto : KabarMedan.com

MEDAN, KabarMedan.com | Korban banjir yang terjadi di perumahan De Flamboyan di Kelurahan Tanjung Selamat, Kecamatan Medan Tuntungan yang kini tinggal sementara di posko pengungsian di Balai Desa Tanjung Selamat dan aula Arhanud mengalami gangguan kulit. Namun demikian, saat ini ketersediaan obat-obatan lebih dari cukup.

Hal tersebut diungkapkan dokter jaga di posko kesehatan di samping Balai Desa Tanjung Selamat ketika ditemui pada Senin (7/12/2020) sore. “Kondisinya sejauh ini baik-baik saja, jadi kalau ada keluhan mereka datang ke sini dan kita akan obati kalau yang tidak mungkin, perlu sekali atau apa, kta akan datang ke ruangan mereka,” katanya.

Dikatakannya, umumnya sakit yang dikeluhkan oleh korban banjir adalah ganguan kulit, gatal-gatal, sakit kepala akibat kurang tidur, stres atau luka-luka yang pada masa kejadian belum tuntas pengobatannya. “Umumnya gangguan kulit, gatal-gatal. Setiap hari dikontrol dan kita kasih obat penanganannya. Obat, lebih dari cukup,” ungkapnya.

Satu Orang Dirujuk ke RS
Dijelaskannya, dari 343 orang pengungsi, ada 1 orang yang disujuk ke Rumah Sakit Bina Kasih karena sakit dan harus melakukan cuci darah. “Hari ini sudah dirujuk ke rumah sakit Bina Kasih. Kita mengimbau kepada korban agar banyak bersabar. Kalau stres bisa menurunkan data tahan tubuh,” katanya.

Baca Juga:  Indosat Teken MoU Cetak 1 Juta Talenta Digital Indonesia Melalui AI

Dokter yang bertugas di puskesmas Sei Mencirim itu juga mengimbau agar masyarakat memanfaatkan (fasilitas kesehatan) yang ada, misalnya vitamin. “Misalnya vitamin, atau segala macam kalau bisa rutin ke sini, kita kasih. Dan kita imbau agar menjaga kebrsihannya juga,” katanya.

Seorang pengungsi, Elikasih Telaumbanua (38), beberapa kali terbatuk. Dia bersama istri dan 3 anaknya terpaksa tinggal sementara di posko karena rumahnya di blok L40 tidak bisa ditinggali akibat banjir.

Elikasih Telaumbanua (38), dia dan keluarganya selamat dari banjir yang terjadi di perumahan De Flamboyan pada Kamis malam hingga Jumat (7/12/2020) dini hari. Foto : KabarMedan.com

Lokasi rumahnya berada di dekat masjid. Tepat di belakang rumahnya adalah tanggul sungai yang jebol. Saat itu, satpam perumahan De Flamboyan itu sedang berjaga di pos. Malam itu, dia tidak sempat menyelamatkan keluarganya yang berada di rumah. Saat itu dia hanya bisa pasrah dan berdoa agar keluarganya selamat.

“Saya di pos saja pak, berdoa dan pasrah saja saya bisa karena kalau saya paksakan ke rumah, pasti saya terbawa hanyut karena deras kali airnya,” katanya.

Baca Juga:  Polres Sergai Musnahkan Barbut Narkoba, 100 Gram Sabu dan 19 Butir Ekstasi

Untuk diketahui, jarak dari pos satpam menuju rumahnya sekitar 500 – 600 meter, melewati jembatan kecil dan tempat terbuka. Dikatakannya, keluarganya bisa selamat dari banjir tingginya lebih dari 2 meter itu karena naik ke lantai 2. “Di rumah itu, hanyaada istri dan 3 anak saya,” katanya.

Untuk diketahui, jarak pos satpam menuju rumahnya sekitar 500 – 600 meter, melewati jembatan kecil dan tempat terbuka yang cukup luas. Dikatakannya, keluarganya bisa selamat dari banjir yang tingginya lebih dari 2 meter itu karena naik ke lantai 2 rumahnya.

Akibat banjir itu, dia sekeluarga kini tinggal di posko. Tidak ada barang apapun di rumahnya yang selamat. Hanya pakaian yang dipakai yang tersisa. Seluruh dokumen penting, KTP, Kartu Keluarga dan lainnya lenyap dibawa banjir.

“Nyaman lah kami di sini, dilayani dengan baik. Pak tentara-tentara di sini baik. Tidak ada keluhan apa-apa selama di sini. Pakaian ada, makanan ada, banyak. Selimut ada, dokter ada, Semua sehat kami sekeluarga,” katanya.

Ketika ditanya apakah dia mengalami batuk dan gatal-gatal, dia menjawab dengan singkat. “Ya kalau batuk atau gatal, biasa lah. Sedikit saja. Tidak apa-apa lah,” ungkapnya. [KM-05]