Setelah Adam dan Aris Berhasil Dipisahkan, Ini Penjelasan Tim Dokter

Sekretaris Tim Penanganan Bayi Kembar Siam, dr. Rizky Adriansyah SpA (K) memaparkan keberhasilan pemisahan bayi kembar siam Adam dan Aris oleh tim dokter di RSUP Haji Adam Malik. Foto : KabarMedan.com

MEDAN, KabarMedan.com | Pemisahan bayi kembar siam asal Dusun Sei Kelapa II, Desa Tanjung Haloban, Kecamatan Bilah Hilir, Labuhanbatu, Adam dan Aris berhasil dilakukan pada Rabu (20/1/2021). Lebih dari 50 dokter di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik dilibatkan.

Kepada wartawan saat konferensi pers di depan gedung administrasi RSUP Haji Adam Malik, Dr. Erjan F, SpBA (K) mengaku teringat pada operasi pemisahan bayi kembar siam pada 1988 di Rumah Sakit Umum Daerah Pirngadi Medan oleh Prof. Suwandi yang disebutnya sebagai guru karena telah mendidiknya.

“Tahun 1988 di Pirngadi. Adi Suhendra dan Adi Suhendri. Waktu itu saya masih koas (co-assistant). Mungkin itu juga lah yang bikin saya apengen jadi dokter bedah. Saya tengok hebat kali dokter itu. Kemudian saya masuk bedah ke bedah anak. Kemudian saya dapat kesempatan didikan langsung dokter Asmui, waktu itu Mariana – Mariani,” katanya.

Saat itu dia sedang sekolah di Bandung. Dia secara khusus dipanggil oleh dokter Asmui untuk membantu operasi kembar siam hingga pada operasi pemisahan Sahira dan Fahira. Saat itu dirinya masih gamang namun terus disemangati rekan-rekannya.

“Semangat dipompa oleh Prof, direktur dan rekan-rekan, akhirnya alhamdulillah, Sahira-Fahira dan Adam – Malik hasilnya baik,” katanya.

Operasi Adam dan Aris, hampir 10 jam. Secara teoretis, takaran pembiusan dan tindakan akan lebih banyak memancing reaksi inflamasi tapi itu tidak bisa dielakkan karena kondisi livernya yang lebih tebal sehingga lebih lama harus memisahnya.

Baca Juga:  Polres Sergai Musnahkan Barbut Narkoba, 100 Gram Sabu dan 19 Butir Ekstasi

“Dan yang sulit liver ini seperti gabus, tidak mudah dihentikan pendarahannya. Segala macam disiapkan sehingga walaupun begitu lebar yang harus kami belah, ada sekitar 6×8 cm atau 9 cm itu semua pendarahannya hebat. Tapi didukung alat, Alhamdulillah pelan-pelan dapat diselesaikan ” katanya.

Dikatakannya, dalam operasi ini melibatkan para dokter anastesi, bedah plastik dan lainnya. “Dokter utama dan dr Frank ahli bedah plastik, desainer kita ini. Kalau tidak didesain, sudah dibuka perutnya tak bisa tertutup, percuma juga kita pisah. Kemudian masuk saya dan dr Safrudin yang kebetulan ini kawan dari semester 1 fakultas kedokteran sampai dr bedah, kawan lagi di sini. Jadi kemarin itu operasi tahun 2021 serasa seperti operasi 25 tahu yang lau,” katanya.

Menurutnya, operasi ini tak ada apa-apanya jika nantinya terjadi perburukan atau komplikasi. Tim dokter lah yang menjaga dari mulai obat anti biotik, cairan, sangat-sangat optimal. Tentunya tidak terlepas perawat-perawat yang mengawal kami semua. Ini belum setengah jalan. Masih panjang.

Direktur Utama RSUP H. Adam Malik, dr. Zainal Safri, Sp.PD-KKV, Sp.JP (K) menjelaskan, Adam dan Aris dirawat di RSUP Haji Adam Malik sejak kelahirannya pada 9 Desember 2019. Seperti pada operasi bayi kembar siam sebelumnya, ditanggung biayanya oleh pemerintah melalui RSUP Haji Adam Malik.

Baca Juga:  Program IM3 Pasti Simpel Buat Pelanggan Sumatra Bawa Pulang Motor Listrik

“Memang kita rawat cukup lama, 12 bulan. Seperti yang dulu-dulu juga, memang ini kita tanggung biayanya. (oleh) pemerintah lewat (RSUP) Adam Malik menanggung,” katanya.

Pasangan Nur Rahmawati (26) dan Supono (32) tak bisa menahan tangisnya. Dia berulangkali mengucapkan terima kasih kepada pihak rumah sakit, tim dokter, perawat dan lainnya yang ikut serta dalam operasi pemisahan kedua anaknya.

“Saya sangat senang karena akhirnya anak saya berhasil dipisahkan. Terima kasih banyak kepada semua yang ikut serta operasi anak saya,” ujar Nur Rahmawati sesenggukan.

Selama proses operasi pemisahan, Nur mengaku hatinya tidak tenang. Apalagi sampai sekarang dia belum bisa melihat kedua anaknya. “Saya belum lihat. Terakhir ketemunya saat mau operasi. Selama 10 jam tak tenang hati. Pengen banget ketemu,” ujarnya.

Sekretaris Tim Penanganan Bayi Kembar Siam, dr. Rizky Adriansyah SpA (K) menjelaskan, bukan hanya orangtua yang dibatasi, tenaga (kesehatan) yang keluar masuk, juga diatur sesuai dengan kepentingannya.

“Mohon maaf kami. Bukan hanya orangtua yang kami batasi. Ini terkait mencegah infeksi dan risiko yang lain. Tapi kita tetap monitoring, obat-obatan sesuai protokol kita tetap diberikan, informasi diberikan rutin ke orangtua. (kapan boleh ketemu), nanti diinformasikan,” katanya. [KM-05]