MEDAN, KabarMedan.com | JP, seorang warga Kota Binjai akhirnya menyerahkan secara sukarela orangutan sumatera (Pongo abelii) kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut). Dalam penyerahan tersebut, tim BBKSDA Sumut mendapat pendampingan dari personel Polres Binjai. Selain orangutan, JP juga menyerahkan burung elang dan beo.
“Iya sudah dievakuasi. Dengan (dengan pendampingan) Polres Binjai,” katanya ketika dikonfirmasi melalui telepon, Kabag TU BBKSDA Sumut, Teguh Setiawan, Selasa (23/3/2021).
Dijelaskannya, satwa dilindungi yang diserahkan oleh JP yakni 1 individu orangutan, 2 ekor burung elang dan 1 ekor burung beo. Satwa tersebut kemudian dibawa ke pusat penyelamatan satwa (PPS) yang dimiliki oleh BBKSDA Sumut. “Sekarang kita bawa ke PPS yang ada di kita, kita pelajari dulu nanti baru kita putuskan direhabilitasi di mana,” katanya.
Teguh mengatakan bahwa pihaknya telah melaporkan kasus pelemparan terhadap 2 mobil yang digunakan rombongan BBKSDA Sumut. Pelemparan itu dilakukan oleh orang tidak dikenal yang mengakibatkan kerusakan pada kaca mobil. “Kalau satwanya sudah selesai, dia menyerahkan ke KSDA secara sukarela,” katanya.
Kasatreskrim Polres Binjai, AKP Yayang Rizki Pratama menjelaskan, pihaknya melakukan pendampingan dalam mengamankan beberapa satwa dilindungi oleh BBKSDA Sumut. “Jadi tadi dari BBKSDA Sumut datang ke Polres minta pendampingan mengamankan beberapa satwa dilindungi yang diduga terdapat di rumah penduduk di wilayah Polres Binjai. BBKSDA Sumut yang mengamankan. Kita sifatnyua hanya membantu mendampingi,” katanya.
Klarifikasi pemelihara orangutan
JP, pemelihara orangutan, yang juga datang ke Polres Binjai, mengatakan, mengenai orangutan tersebut, pukul 10.30 WIB, saat sedang tidak di rumah, dia dihubungi oleh temannya yang mengabarkan bahwa ada 4 orang dari kehutanan yang datang ke rumahnya. Mendengar itu, tak lama kemudian dia tiba di rumahnya.
“Jadi saya suruh tunggu. Tak lama kemudian saya datang, saya persilakan masuk, duduk. Saya tanya ada apa, rupanya terkait adanya orangutan di rumah kita. Mereka minta untuk dibawa,” katanya.
Dikatakannya kepada petugas dari kehutanan itu bahwa dirinya mengetahui orangutan adalah hewan dilindungi yang diambilnya dalam keadaan sakit, luka-luka kemudian dirawat dan diobatinya. “Jadi saya rawat, bukan saya rampas. Mohon lah. Kalau memang perlu izin, cemana prosesnya saya urus izin. Tapi kata mereka harus serahkan ke konservasi alam. tolong lah pak bagaimana ceritanya lah, kebetulan ini anak saya sudah seneng kali,” katanya.
Dijelaskannya, petugas yang datang itu tetap keukeuh tidak membolehkannya. Petugas yang datang itu juga kembali menunjukkan surat tugasnya yang kemudian dibacanya. “Saya mintya waktu 1 minggu. Ini nomor hp saya, katanya. Rupanya namanya pak Turnip sama pak Aritonang. Oke deal satu minggu. Lalu mereka izin pulang,” katanya.
Berselang setengah jam, saat sedang bertelefon, ada yang menghubunginya, Pak Turnip, yang mengaku dilempari saat berada di tugu oleh orang yang disebutnya ‘anggota bapak’. Dia kemudian menuju tugu, tidak ketemu karena rombongan BBKSDA Sumut itu sudah berada di depan Markas Brimob di Binjai.
“Mereka parkir di pinggir jalan. Cemana pak. Ini lho pak dilempari ada dilempari, ada memang retak sedikit. Jadi kawan bapak di mana? Lari pecah. Bapak tanda orangnya, yang pake baju merah, bukan yang pake baju batik,” katanya.
Mengenai pelemparan batu ke mobil rombongan BBKSDA Sumut, dia mengaku tidak mengetahui siapa yang melakukan pelemparan tersebut. “Nggak tahu. Dan pelemparan itu, jauh dari rumah, gak dekat dari rumah kita. Aku kan gak tau. Jadi saya pun ke polisi juga lah. Jangan nanti ada asumsi, tahu-tahu polisi mendengarkan sebelah pihak. Tidak ada (anggota saya). Jadi kita mau tanya, yang nyerang itu pakai baju ** (nama organisasi kepemudaan) atau tidak,” katanya.
Diberitakan sebelumnya, evakuasi orangutan di sebuah rumah tokoh di Binjai pada Senin pagi tadi meskipun dilakukan secara persuasif namun sempat berjalan tidak mulus. Pemelihara meminta waktu seminggu untuk diserahkan ke BBKSDA Sumut. Rombongan kemudian meninggalkan lokasi pemeliharaan. Namun, setelah berjalan sekitar 500 meter – 1 km dari lokasi, rombongan dilempari batu oleh orang tidak dikenal.
Akibatnya, 2 dari 4 mobil yang digunakan oleh rombongan mengalami kerusakan di bagian kaca. Mendapat serangan demikian, rombongan BBKSDA Sumut masuk ke Markas Brimob di Binjai. Beberapa saat kemudian, pihak BBKSDA Sumut membuat laporan ke Polres Binjai. [KM-05]














