Hama Tikus Serang Padi di Simalungun, Hasil Panen Turun 25 Persen

Seorang petani menunjukkan tikus yang berhasil ditangkapnya saat dilakukan pengendalian hama tikus di desanya bersama dengan petugas POPT. (Dok. PTPH Sumut)

MEDAN, KabarMedan.com | Hama tikus menjadi tantangan bagi petani di Desa Kampung Samosir, Nagori Karang Bangun, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun. Sudah berkali-kali petani mengalami penurunan angka panen hingga 25 persen akibat serangan tikus. Petani diimbau lebih sering melakukan sanitasi atau pembersihan di lahannya dan melakukan gropyokan.

Kepala UPT Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumatera Utara (PTPH Sumut), Marino, Senin (13/9/2021) menjelaskan, di kawasan tersebut memang selama ini sering terjadi serangan hama tikus. Mengingat di sekelilingnya masih terdapat perkebunan. Salah satu cara untuk menekan kemunculan hama tikus adalah dengan menjaga sanitasi dan gropoyokan.

Dikatakanya, pihaknya memiliki petugas lapangan yang disebut dengan Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT). Di Kabupaten Simalungun, ada 18 orang PTPT dengan satu orang koordinator yang ditempatkan di seluruh kecamatan. Setiap harinya mereka melakukan monitoring di lapangan.

Sebenanya hama yang menyerang bukan hanya tikus, tetapi juga ada hama penggerek batang, kresek dan blas. Dari dasar pengamatan petugas POPT, jika ditemukan serangan maka dilakukan pengenalian. Jika masih di bawah ambang kendali, langkah yang dilakukan adalah langkah pencegahan.

Jika serangan sudah muncul, maka dilakukan pengendalian secara responsif. Di Kampung Samosis, kata dia, sudah dilakukan langkah pengendalian bersama petani dan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian kabupaten. Mengenai bahannya, diperoleh dari Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan yang sudah didistribusikan ke gudang-gudang kabupaten.

Baca Juga:  Program IM3 Pasti Simpel Buat Pelanggan Sumatra Bawa Pulang Motor Listrik

“Gudang-gudang itu tidak hanya ada di Simalungun, tetapi juga ada di Asahan, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah dan lainnya. Bahan-bahan pengendalian itu salah satunya pestisida dan lain sebagainya dengan harapan seandainya ada serangan mereka langsung ambil dari gudang itu kemudian langsung action bersama petani di lapangan,” ujarnya.

Informasi yang didapat, di Kampung Samosir sudah berulangkali gagal panen akibat serangan tikus. Menurut Marino, pihaknya sudah mengecek di lapangan. Menurutnya, petani tidak mengalami gagal panen, namun mengalami penurunan hasil panen sekkitar 25 persen.

“Memamg ada serangan tikus. Tapi masih kategori sedang. Kan ada kriterianya, ringan, sedang, berat, puso. Ini petani masih bisa memann hasilnya. Kalau itu masih 25 persen (penurunan) di lapangan,” ujarnya.

Dijelaskannya, serangan hama tikus memang sudah endemis di Simalungun karena masih adanya perkebunan di sekelilingnya. Begitu halnya dengan pertanaman di kabupaten lain, seperti Langkat, Serdang Bedagai, Deli Serdang dan lainnya

Baca Juga:  Indosat Teken MoU Cetak 1 Juta Talenta Digital Indonesia Melalui AI

Sanitasi dan gropyokan
Pihaknya merekomendasikan kepada para petani untuk lebih rajin melakukan sanitasi di lahannya, salah satunya dengan membersihkan parit-paritnya. selain itu, juga melakukan gropyokan yakni melakukan pengendalian tikus secara bersama-sama ‘berburu’ tikus di lubang-lubang di lahan dengan pengasapan belerang, umpan racun dan lainnya.

Burung hantu
Selain kedua hal tersebut, pihaknya sudah memfasilitasi pembuatan rumah burung hantu atau titu alba sebagai predator tikus sebanyak 40 unit di beberapa kabupaten. Di Simalungun, kata dia, sudah ada pembuatan rumah burung hantu. Namun di Desa Nagori Karang Bangun memang belum ada.

Menurutnya, burung hantu sebagai predator tikus efektif untuk mengendalikan tikus. Diharapkan, burung hantu itu hinggap dan di rumah burung hantu tersebut, memantau keberadaan tikus lalu memangsanya di situ. Diharapkan burung hantu itu hinggap dan menetap di situ. Misalnya di Serdang Bedagai dan Deli Serdang, sudah ada burung hantu yang hinggap dan memangsa tikus.

“Dalam satu malam, burung hantu itu dapat makan 5 ekor tikus. Nah, dalam 25 hektare, kita pasang 1 unit. Dengan harapan burung hantu itu bisa menjangkau seluas 25 hektare itu,” katanya. [KM-05]