Ancaman Perang Dunia Ketiga, Harga Emas Naik

Pengamat ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin. (Foto: Ist)

MEDAN, KabarMedan.com | Setelah sempat terpuruk sebelumnya akibat ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS, harga emas belakangan ini mengalami kenaikan. Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, harga emas sejauh ini bertengger di kisaran $1.831 per ons troy.

“Membaik setelah sempat terpuruk hingga ke level $1.790 per ons troy di bulan Januari kemarin. Harga logam mulia di tanah air saat ini dijual di kisaran 945 ribuan per gram,” ujarnya, Sabtu (12/2/2022).

Menurutnya, kinerja harga emas yang membaik belakangan ini tidak terlepas dari kekhawatiran ancaman perang dunia ke tiga. Dimana hubungan antara Rusia dan Ukraina memanas.

Masalah geo politik tersebut turut menyeret sejumlah negara lain seperti AS hingga NATO.

Gunawan Benjamin menjelaskan, disaat terjadi perang, investor akan lebih berhati-hati dalam berinvestasi. Investor cenderung menghindari produk-produk investasi dimana produk tersebut dikeluarkan oleh negara yang tengah berperang.

Baca Juga:  Pertamina Pastikan Kesiapan Avtur untuk Dukung Penerbangan Haji 2026

Disaat sebuah negara berperang maka risiko investasinya meningkat. Hal ini bisa membuat sejumlah produk keuangan atau investasi negara tersebut ditinggalkan investor.

“Saat seperti itu, investor akan memilih produk-produk yang lebih aman. Nah emas ini akan menjadi instrument investasi yang lebih menarik dan dinilai aman dibandingkan dengan produk investasi lain dari sebuah negara seperti obligasi, property, mata uang, pasar saham dan produk investasi lainnya,” jelasnya.

Ia menerangkan, pada dasarnya perang menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan. Tekanannya bisa dirasakan baik langsung maupun tidak bagi sebuah negara.

Hal ini tergantung bagaimana hubungan negara tersebut dengan negara lainnya. Namun pelaku pasar bisa saja mengalami shock atau terpukul sementara saat perang kembali pecah.

Baca Juga:  Pegadaian Gelar Kuliah Umum dan Literasi Keuangan di Universitas Satya Terra Bhineka

Sekalipun perang tidak melibatkan semua negara, dikatakan Gunawan Benjamin, pasar keuangan global tetap berpeluang terpuruk saat perang terjadi.

Saat itu harga emas justru berpeluang untuk naik. “Namun saya tetap menggaris bawahi berinvestasi di emas berpeluang untuk berfluktuasi dalam rentang yang lebar, jadi pelaku pasar harus benar-benar cermat dan terus memantau perkembangan geo politik serta kebijakan suku bunga acuan AS,” terangnya.

Menurutnya, kenaikan suku bunga acuan AS ini memang akan terjadi dalam waktu dekat dan berpeluang menekan harga emas dalam jangka panjang.

Namun, jika perang terjadi maka tekanan itu bisa saja hilang, karena perang akan mendorong kenaikan harga emas.

“Jadi jangan terlena dan terus ikuti perkembangan di kedua sisi baik itu suku bunga acuan maupun perang itu sendiri,” tandasnya. [KM-07]