MEDAN, KabarMedan.com | Pengamat Ekonomi Sumatera Utara (SUMUT), Kamis (10/3/2022) mengatakan saat ini kita tengah dihantui dengan kemungkinan kenaikan harga BBM seiring dengan semakin mahalnya harga minyak mentah dunia.
Saat ini harga minyak mentah sudah berada di level $125 per barel, baik untuk jenis WTI maupun Brent.Sementara itu harga BBM bersubsidi masih sama. Kalau dibiarkan (tidak naik) maka pemerintah menanggung beban besar untuk subsidi BBM.
“Yang menjadi pertanyaan sampai kapan pemerintah bisa bertindak seperti itu. Kalau BBM tidak dinaikkan, konsumsi BBM berpeluang naik, yang pada akhirnya nanti akan memicu terjadinya peningkatan pembelian BBM impor, yang bisa menekan kinerja mata uang rupiah. Dan dampak dari pelemahan Rupiah nantinya justru bisa memicu masalah yang lebih kompleks,” papar Gunawan Benjamin.
Selain cadangan devisa maupun anggaran terkuras. Pelemahan mata uang Rupiah juga berpeluang memicu terjadinya peningkatan hutang negara, beban impor yang semakin besar dan berpeluang memicu terjadinya krisis ekonomi.
kebijakan AS yang menutup pembelian minyak dari Rusia, memicu kenaikan harga energy pada hari ini.
Menurut Gunawan, Sumatera Utara yang ekonominya tumbuh 2,61% selama tahun 2021, memang menjadi kabar baik.
Walaupun realisasinya masih di bawah nasional, bila berkaca di tahun 2020, resesi yang terjadi di Sumut juga masih kecil dari nasional.
“Tapi apakah kabar tersebut bisa jadi modal bagus di tahun ini?” tanya Gunawan.
Gunawan memaparkan, semua sangat yakin kalau pertumbuhan ekonomi Sumut di 2022 ini lebih baik dibandingkan tahun 2021.
Namun perlu diingat, berkaca pada hari ini juga, kita tengah dihadapkan pada kemungkinan kenaikan harga BBM. Sejauh ini, harga BBM non Subsidi serta LPG non subsidi sudah dinaikkan di 2022.
Gunawan menjelaskan kemungkinan kenaikan konsumsi BBM maupun LPG bersubsidi berpeluang meroket.
Apabila itu terjadi, maka beban subsidi pemerintah bisa naik. “Jadi kita realistis saja, bahwa harga BBM ke depan ini berpeluang naik disesuaikan dengan kemampuan pemerintah. Saya yakin detik ini pun pemerintah tengah mengkalkulasi anggaran yang sudah bisa dipastikan bermasalah akibat naiknya harga minyak mentah dunia,” jelasnya.
Gunawan menerangkan, Sumut tengah berhadapan dengan kemungkinan terjadinya pertumbuhan ekonomi stagnan tetapi inflasinya malah naik.
“Saya melihat inflasi Sumut berpeluang untuk berada di kisaran level 2,5% hingga 3% di tahun 2022 ini,” ucapnya.
Apabila berasumsi bahwa 2022 ekonomi Sumut tumbuh sama dengan tahun sebelumnya, maka jelas pertumbuhan ekonomi Sumut bisa negative.
Gunawan meminta Pemerintah Daerah optimalkan anggaran dan lebih kreatif dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi.
“Karena saat ini kita tengah berkejaran, dimana inflasi sudah lari lebih dahulu, dan kita atau pertumbuhan ekonomi (PDRB) harus berpikir bagaimana mengejar ketertinggalan tersebut,” tandasnya. [KM-07]















