
MEDAN, KabarMedan.com | Keresahan peternak sapi di Dusun XXII, Desa Pondok Rowo, Kecamatan Sampali, Deli Serdang tak bisa disembunyikan. Betapa tidak, ratusan ternak sapi itu pada bagian mulut mengeluarkan air liur dan kuku kakinya terluka.
Ketua Kelompok Tani enggal Mukti, M. Sugito mengtatakan, populasi sapi yang dirawat anggotanya mencapai 800. Semuanya memiliki gejala yang sama. Hal itu menunjukkan adanya serangan PMK.
Biarpun demikian, 70 persen di antaranya pulih. Sebagian sudah mau makan dan mulai berdiri. Kondisi itu sangat berbeda dibandingkan seminggu yang lalu. Dia mengakui ada yang sudah mati dan ada yang dipotong sebelum mati. Dagingnya dibagikan.
Di kandang ternaknya, Taufik Hidayat Daulay menuturkan, ada dua kandangnya yang diisiĀ 140 ekor. Semuanya sakit. Sebagian masih ‘meler’, terduduk tapi sudah mau makan, sebagiannya sudah menuju pulih 100 persen. Masa kritis 4-5 hari telah lewat.
Taufik mengaku sudah menghabiskan lebih dari Rp 15 juta untuk membeli obat dan vitamin serta jamu terbuat dari kunyit, jahe, gula merah, dan lainnya. Biayanya mencapai Rp 15 ribu – Rp 30 ribu per ekor.
Setelah berminggu-minggu, hingga kini belum ada dari pihak pemerintah melalui dinas peternakan atau pertanian yang datang mengecek ke lokasinya.
“Ada (perhatian) tapi beberapa saja. Ke kandang saya belum. Sudi lah pemerintah kepada kami. Gimana petani kecil yang punya 2 ekor, sementara untuk makan aja susah,” katanya.
Kabid Peternakan Dinas Peternakan Deli Serdang, Refli Sofyan mengatakan, sampai 26 Mei, sapi yang sakit 491 ekor. Angka kesembuhan juga terus bertambah. Dia mengakui saat ini stok obat dan vitamin sudah habis.
“Kondisi stok obat kita sudah habis, peternaknya kita ajak kerjasama. Mereka yang beli obatnya, kita yang mengerjakan. Apalagi yang di Pondok Rowo kan rata-rata pedagang. Kalau yang peternak 1 atau 2 ekor kita layani. Yang pedagang kita kerjasama,” katanya.
Harga untuk qurban naik
Taufik mengatakan, umumnya sapi yang dirawat peternak di dusun itu merupakan ternak investasi dari orang dan sebagian sudah dipesan atau dipanjar untuk Idul Adha.
Sapi-sapi itu sengaja tidak lagi digembalakan agar fisiknya tidak makin menurun dan upaya penyembuhan dapat dilakukan dengan baik. Dia sudah bertanya ke banyak orang tentang bagaimana penyembuhannya, obat apa saja yang digunakan dan lain sebagainya.
Dia berharap agar pemerintah memberi perhatian karena jika tidak ditangani akan merugikan peternak, khususnya peternak yang hanya memiliki 2 ekor. Dia khawatir jika sapi yang sakit tidak ditangani, maka berat dagingnya tidak memuaskan.
“Selain tingkat kematiannya, daging yang diharapkan memuaskan jadi tidak memuaskan karena per hari penurunan berat badan 1 – 2 kg. Gimana kalo berkelanjutan berbulan-bulan,” katanya.
Dia sendiri tidak berani memasang tanda kepemilikan sapi karena resiko itu. Namun saat di hari H, sapinya akan diantar ke lokasi. Sebagian ada yang mau.
“Di sini kesulitan pedagang sapi qurban. Jauh merugi, yang harusnya mereka beli lihat lembu, ini gimana bayarnya lembunya tak kelihatan dan kita tak bisa datangkan lembu dari luar,” katanya.
Warga Mandala, Herawaty datang bersama dua orang lainnya ke lokasi ternak Taufik untuk membeli sapi yang akan disembelihnya bersama keluarga saat Idul Adha. Menurutnya, harga sapi saat ini naik.
“Jauh lebih naik lagi lah. Biasanya Rp 13,2 juta. ini udah Rp 14 juta. Kita berserah kepada Tuhan aja lah,” katanya. [KM-05]













