IbM Kampung Aur: Mari Remajakan Kembali Wajah Sungai Deli

Penyerahan fasilitas lingkungan secara simbolis kepada Kepala Lingkungan, yang dihadiri oleh warga dan Tim Pendamping LPM Unimed.

Oleh: Irma Novrianty Nasution

Sungai Deli merupakan satu dari delapan sungai yang ada di Kota Medan. Saat ini, kondisi Sungai Deli sangat memprihatinkan sebab perilaku masyarakat kota yang tidak tertib membuang sampah dan limbah. Pencemaran Sungai Deli 70% dicemari oleh limbah domestik dan 30% dicemari oleh limbah industri (data Bappedalda Sumut=red). Situasi ini mengakibatkan sungai mengalami pendangkalan di beberapa titik, penurunan daya dukung sungai, kualitas air sungai dan kualitas lingkungan permukiman di bantaran sungai.

Pada hakekatnya, permasalahan lingkungan bantaran Sungai Deli tidak terlepas dari permasalahan tata ruang kota dan pertumbuhan penduduk yang semakin pesat. Pembangunan yang marak dilakukan di tengah kota maupun di sekitar sungai, mengakibatkan masyarakat dengan penghasilan rendah terdesak ke daerah pinggiran sungai untuk tinggal dan bermukim. Kondisi demikian secara nyata meningkatkan lingkungan permukiman marginal di masa-masa mendatang.

Oleh karena itu, perlu dilakukan peningkatan sarana dan prasarana lingkungan permukiman yang sesuai kondisi sosial budaya masyarakat setempat, dengan cara bersama-sama/gotong royong dalam membenahi fasilitas lingkungannya melalui peran aktif kelompok komunitas, dalam menjembatani permasalahan masyarakat Sungai Deli dengan pihak-pihak yang terkait.

Adapun mitra yang akan bekerjasama dalam program IptekbagiMasyarakat (IbM) ini adalah masyarakat di lingkungan Sungai Deli lebih tepatnya di Kampung Aur. Mitra program IbM ini yaitu masyarakat lingkungan III (dipimpin oleh Yahdi Sabil), dan Lingkungan IV (dipimpin oleh Ali Umar). Selain bermitra dengan masyarakat di Kampung Aur, juga bermitra dengan komunitas Go River (dipimpin oleh Darwis) yang berfungsi sebagai mediator antara Tim Pelaksana (Lembaga Pengabdian Masyarakat/LPM Unimed) dan anggota masyarakat di lingkungan Kampung Aur.

Dalam membenahi lingkungan permukiman masyarakat di Kampung Aur perlu dilakukan pendekatan penciptaan rasa harga diri dan percaya diri, sebagai bagian dari masyarakat kota dan penggalakan motivasi membangun dari dalam melalui wahana partisipasi seperti rembug kampung, arisan atau koperasi. Rumah bagi kaum marginal bukanlah sekedar tempat bernaung melainkan sekaligus tempat usaha, ajang bersosialisasi, dan berbagai kegiatan yang sastra gatra/multi dimensi (Budiharjo, 2006).

Permasalahan utama yang ditemui di Kampung Aur yaitu sampah rumah tangga belum dapat ditanggulangi secara individu maupun kelompok. Fasilitas wadah penampungan sampah belum tersedia secara terintegrasi dan sampah yang menumpuk melebihi kapasitas tempat pembuangan akhir.

Sehingga sampah semakin banyak dan tidak diangkut yang akhirnya menyebabkan lingkungan permukiman yang kurang sehat dan nyaman. Pembuatan wadah sampah sesuai karakteristik sampah diharapkan mampu mereduksi timbunan sampah di TPA. Dan anggota masyarakat di lingkungan permukiman tersebut diharapkan terbangun keperduliannya untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar tempat tinggalnya melalui sosialisasi dan tanda-tanda yang dipasang di sekitar lingkungan permukiman.

Dengan adanya program IbM yang dilakukan secara bersama-sama antara Tim Pelaksana, kelompok komunitas dan anggota masyarakat Kampung Aur (sebagai mitra) diharapkan mampu membuka wawasan dan perlahan-lahan menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap perbaikan kualitas lingkungan permukimannya. Melalui program IbM dan peran aktif masyarakat, serta kelompok komunitas akan memberi peluang yang positif di kemudian hari yang dapat dilakukan secara berkelanjutan. Sehingga masyarakat di lingkungan Sungai Deli, khususnya Kampung Aur dapat meningkat rasa percaya diri dan rasa kebersamaan dalam menjaga lingkungan permukiman yang sehat dan nyaman.

Dalam memecahkan permasalahan tersebut, ada beberapa solusi yang ditawarkan guna merancang mekanisme kegiatan pemberdayaan masyarakat di Kampung Aur.Ada beberapa pendekatan yang digunakan diantaranya sosialisasi, kinerja, evaluasi, dan pendampingan dalam mengelola sampah lingkungan, baik secara individu ataupun kelompok.

Kegiatan awal sosialisasi dilakukan untuk membangun hubungan antara Mitra dan Tim Pelaksana. Pendekatan dilakukan untuk melihat dan mengidentifikasikan permasalahan yang ada dan secara bersama-sama merancang kegiatan yang kontekstual dengan kondisi Mitra (dalam hal ini warga Kampung Aur di Lingkungan III dan IV), serta bergandengan dengan Mitra dari kelompok Komunitas Go River memberi solusi terbaik untuk Kampung Aur.

Kegiatan sosialisasi ditujukan kepada Mitra (warga dan pihak berwenang atau Kepala Lingkungan) dan komunitas Go River. Tujuan sosialisasi untuk memperoleh persepsi yang sama diantara Mitra dan Tim Pelaksana. Selain itu, sosialisasi dilakukan agar wawasan dan pengetahuan Mitra meningkat dan terbangun sebuah budaya positif dalam memelihara lingkungan permukiman.

Pada kegiatan sosialisasi, Tim Pelaksana sudah merancang wadah sampah dan papan penanda pesan yang akan diberikan ke Mitra. Dengan terlebih dahulu meminta masukan dari Mitra yang kemudian disesuaikan dengan masukan dari Mitra.

Setelah Mitra menerima pembekalan melalui sosialisasi, selanjutnya adalah memfasilitasi masyarakat Kampung Aur dengan produk atau kelengkapan fasilitas lingkungan berupa papan penanda pesan dan wadah sampah. Dimana peran Mitra dan Tim Pelaksana secara bersama-sama mengaplikasikan kelengkapan tersebut di lokasi-lokasi yang telah ditentukan bersama. Proses kinerja yang dilakukan terdiri dari persiapan, pelaksanaan dan pekerjaan selesai.

Kemudian dilanjutkan ke tahap evaluasi. Pada tahap ini, Tim Pelaksana akan melihat kebermanfaatan produk yang telah diberikan. Wadah sampah berfungsi dengan baik yang ditandai oleh kemauan warga membuang sampahnya pada wadah tersebut.

Setelah semua rangkaian proses pemberdayaan dilakukan, kemudian kelompok fasilitator melakukan analisis program terapan yang mereka lakukan. Berikut hasil analisis pada setiap tahapan :

1. Sosialisasi

Kegiatan sosialisasi dilakukan dengan mendatangkan narasumber sebagai sumber pengetahuan bagi Mitra dan warga di Kampung Aur. Kegiatan ini dihadiri oleh Mitra yaitu Kepala Lingkungan III dan IV, serta warganya. Masing-masing narasumber memberikan materi terkait 1) menjaga keberihan sungai, 2) pentingnya fasilitas lingkungan, dan 3) pengelolaan sampah sederhana.

Kegiatan ini dirangkai dengan beberapa kegiatan lainnya yaitu rembug warga dalam menentukan lokasi wadah sampah dan papan penanda pesan, serta masalah pengelolaan sampah. Selain itu, Mitra bersama-sama dengan Tim Pelaksana, dan Narasumber melakukan rembug untuk menentukan bentuk pengelolaan pengangkutan sampah oleh warga setelah diberikan bantuan berupa produk fasilitas lingkungan tersebut.

Sosialisasi tidak hanya memberikan pemahaman kepada warga dan Mitra, juga mengajak warga untuk rembug membentuk kelompok-kelompok kecil yang nantinya akan menjaga produk yang diberikan, serta mengelola keberlanjutan produk tersebut agar tidak terbengkalai.

Dalam kegiatan ini juga dilakukan penentuan lokasi wadah sampah yang akan dipasang dan disebar di lingkungan Kampung Aur. Mekanisme yang dipilih Tim Pelaksana adalah memberikan gambar atau peta lingkungan Kampung Aur yang lengkap dengan nama-nama jalan yang mereka kenal dengan baik.

Kemudian, Tim Pelaksana mengarahkan dan memberi pendampingan dalam menentukan lokasi tersebut. Selain menentukan lokasi, warga juga diminta menyebutkan masalah-masalah yang mereka hadapi sehari-hari terkait sampah dan rancangan produk wadah sampah yang mereka butuhkan kelak. Hasil penentuan lokasi kemudian dielaborasi oleh Tim Pelaksana untuk memperoleh lokasi yang tepat dan sesuai kebutuhan warga.

Adapun kesimpulan yang diperoleh dari rembug warga antara lain:

a. Wadah sampah sebaiknya diletakkan di setiap persimpangan jalan lingkungan
b. Wadah yang diberikan diupayakan yang kokoh, tidak mudah untuk dibongkar atau diambil orang tidak bertanggungjawab
d. Pengambilan sampah dilakukan setiap hari,
c. Selama ini tidak tersedia peralatan sampah seperti wadah dan atribut penanda pesan,
d. Sampah menumpuk dalam satu tempat tanpa ada pemilahan antara sampah organik dan anorganik,
e. Petugas yang mengangkut sampah hanya ada 1 orang dengan jangkauan yang pendek (dekat ke jalan kota, tidak sampai ke area yang jauh jangkauan dari jalan kota),
f. Tidak tersedia TPS (tempat pembuangan sementara) sehingga sampah menumpuk dan berserakan di jalan-jalan lingkungan.

2. Kinerja

Pada tahap persiapan /awal, Tim Pelaksana terlebih dahulu membuat gambar kerja atau rancangan papan penanda pesan dan wadah sampah. Dan pada tahap pelaksanaan /kinerja, gambar tersebut diwujudkan dan diinstal/dipasang di lokasi yang telah dirembug bersama-sama dengan Mitra.

Hasil rancangan diwujudkan melalui bantuan tenaga ahli. Kemudian, papan penanda pesan dan wadah sampah yang telah selesai dibuat di workshop tenaga ahli dirakit dan dipasang di beberapa lokasi lingkungan Kampung Aur oleh Mitra dan Tim Pelaksana.

Adapun lokasi produk-produk tersebut ditentukan dari hasil rembug warga saat kegiatan sosialisasi. Pemasangan produk di lokasi yang terpilih terlebih dahulu memohon izin ke Lurah, Kepala Lingkungan dan warga setempat. Lokasi yang terpilih tidak serta merta dapat dipasang papan penanda pesan atau wadah sampah. Dalam hal ini, Tim Pelaksana secara berpartisipatif dengan perwakilan Mitra dan warga setempat berembug dalam memutuskan di lapangan posisi yang tepat dan tidak mengganggu aktivitas warga.

Setelah ijin diperoleh, kegiatan dilanjutkan dengan merakit dan memasang papan penanda pesan dan wadah sampah di lokasi yangtelah ditentukan.

3. Evaluasi

Kebermanfaatan produk yang telah diberikanberfungsi dengan baik yang ditandai oleh kemauan warga membuang sampah pada wadah yang ada. Selanjutnya, kegiatan pengelolaan sampah lingkungan diserahkan ke Mitra untuk keberlanjutannya dengan pantauan oleh Tim Pelaksana. Namun, masih ada ditemui warga yang tidak disiplin karena beberapa tiang/dudukan wadah sampah hilang atau tidak berada pada tempat sebelumnya. Kondisi ini merupakan cerminan warga yang tidak peduli pentingnya fasilitas lingkungan demi kelangsungan hidup yang berkualitas.

4. Dampak Kegiatan

Dampak kegiatan Program IbM ini terlihat jelas bagi Mitra yaitu Komunitas Go River, warga/masyarakat Kampung aur, dan bagi Tim Pelaksana. Bagi komunitas, dampak dari kegiatan adalah sebagai wawasan dan pengetahuan awal untuk dapat dilanjutkan dan disebarluaskan ke masyarakat lain disekitarnya. Komunitas dapat berperan sebagai fasilitator dalam mengajak masyarakat lain untuk sadar dan peduli terhadap masalah sampah.

Dimana selama ini fokus kegiatan komunitas hanya seputar masalah kelestarian sungai. Hal ini menjadi penting, ketika sungai harus dijaga kelestariannya, namun masyarakat harus terlebih dahulu ditingkatkan kesadaran dan kepeduliannya terhadap kebersihan lingkungan, serta di tahap awal difasilitasi dengan pengetahuan dan produk-produk lingkungan. Selanjutnya, dibangun budayanya melalui berbagai kegiatan dengan tema yang sama dan fokus yang berbeda-beda tetapi berkesinambungan.

Dampak nyata bagi warga yaitu muncul minat mengelola persampahan dan memanfaatkan fasilitas lingkungan yang diberikan. Peningkatan ini ditandai oleh terbentuknya tim kecil di masyarakat dengan bimbingan komunitas (yang ada dari/di dalam lingkungan Kampung Aur), Narasumber dan Tim Pelaksana yang disampaikan pada saat kegiatan sosialisasi diapresiasi dengan baik oleh warga. Warga juga mulai berpikir dan memiliki niat untuk tidak bergantung pada pihak pemerintah daerah yang bertugas mengangkut sampah rumah tangga. Mereka diberi pemahaman bahwa masalah sampah dan lingkungan adalah untuk kepentingan bersama bukan kepentingan perorangan.

Sehingga kegiatan menjaga lingkungan dan fasilitasnya harus dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh golongan masyarakat mulai dari anak-anak, remaja, maupun dewasa. Namun, perlu dilakukan pendampingan yang terus-menerus di Kampung Aur sehingga warga tergugah hatinya dan berkeinginan kuat untuk tetap menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan permukimannya. Disamping itu, perlu ada alternatif kegiatan program yang berkelanjutan dari program yang telah dilakukan saat ini di masa-masa mendatang.

Bagi Tim Pelaksana, kegiatan ini sebagai wadah untuk melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi melalui penerapan ilmu pengetahuan kepada masyarakat sesuai kebutuhan dan masalah yang ada. Kegiatan program berdampak secara sosial dengan menemukenali beberapa permasalahan di Kampung Aur yang dapat diselesaikan melalui kegiatan-kegiatan lanjutan yang kontekstual dan dilakukan secara partisipatif.

Tingkat keberhasilan kegiatan Program Iptek bagi masyarakat ini, dapat dilihat dari indikator keberhasilan kegiatan pada Tabel Indikator Keberhasilan Kegiatan Peningkatan Fasilitas Lingkungan Permukiman Kampung Aur berikut ini:

5. Keberlanjutan Kegiatan

Harapan di masa mendatang adalah kolaborasi antara akademisi (Perguruan Tinggi), birokrasi dalam rangka membina masyarakat kaum marginal yaitu masyarakat Kampung Aur dan sejenis agar mereka memiliki kesadaran dan pemahaman yang luas akan pentingnya menjaga lingkungan permukiman yang sehat dan nyaman. Akademisi dengan pengetahuannya memberikan ilmu, berbagi dan berpartisipasi untuk menunjukkan keperdulian terhadap masyarakat agar mereka memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan optimis menyongsong kehidupan yang semakin berkembang dan pesat. Kesadaran terhadap lingkungan dilakukan dengan berbagai upaya atau kegiatan bersama dengan melibatkan masyarakat, pemangku kebijakan, akademisi, LSM, dan semua pihak yang perduli dalam pengembangan kawasan permukiman dengan segala permasalahannya.

Berdasarkan hasil kegiatan IbM Kampung Aur dalam meningkatkan fasilitas lingkungan permukiman yang telah dilaksanakan, maka dapat disimpulkan bahwa mitra memperoleh pengetahuan tentang pentingnya menjaga lingkungan dan bantuan berupa produk lingkungan yang dapat dimanfaatkan sebagai pengingat pesan untuk tetap sadar dan peduli, serta wadah sampah yang selama ini tidak tersedia di Kampung Aur.

Selain itu juga mitra, warga, dan tim pelaksana telah membentuk kelompok-kelompok kecil untuk mengelola pengumpulan dan pengangkutan sampah dari wadah sampah yang tersedia ke tempat penampungan sementara (TPS). Selanjutnya, warga secara mandiri diharapkan mampu mengelola lingkungannya melalui pembinaan dan pembimbingan yang berkelanjutan oleh pihak-pihak terkait.

Dengan adanya kegiatan IbM ini, diharapkan Kampung Aur bisa menjadi kampung yang ramah lingkungan dan masyarakatnya memiliki budaya hidup sehat yang berawal dari menjaga lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Mari kita hijaukan kehidupan sekitar dimulai dari membangkitkan kesadaran diri akan pentingnya pola hidup sehat.