Oleh: Sea Intaneisya | Era yang sangat canggih ini, media sosial sudah layaknya rumah kedua bagi khalayak terutama Gen Z. Hubungan yang terjadi pada media pun tentu sangat berpengaruh pada interaksi sehari hari mereka seperti cara mengenal seseorang, mengetahui kepribadian seseorang bahkan mengetahui apa yang orang lain sukai berdasarkan postingan di media sosialnya.
Fenomena tersebut bisa dikaitkan dengan Teori Penetrasi Sosial yang merupakan kerangka pemikiran dalam Ilmu Komunikasi yang menjelaskan pembentukan makna melalui interaksi sosial, peran keterbukaan diri, keintiman, dan komunikasi dalam pengembangan hubungan interpersonal. Dikembangkan oleh Irwin Altman dan Dalmas Taylor, teori ini relevan untuk memahami bagaimana dua individu membangun kedekatan melalui platform media sosial seperti TikTok (Littlejohn, 2017).
Teori ini dapat digambarkan seperti bola bawang yang membagi penetrasi menjadi empat lapisan, Model bawang dalam penetrasi sosial melingkupi lapisan superfisial, lapisan tengah, lapisan dalam, dan kepribadian inti.
Menurut Carpenter (2020), lapisan superfisial mengandung informasi yang dangkal seperti suka dan tidak suka pada sesuatu, lapisan tengah termasuk pandangan politik dan sikap sosial, lapisan dalam meliputi nilai-nilai spiritual, ketakutan yang mendalam, harapan, tujuan, fantasi, dan rahasia, sedangkan kepribadian inti mengandung informasi paling penting.
Lapisan orientasi (topik ringan seperti cuaca), afektif eksploratif (hobi dan preferensi), pertukaran afektif (perasaan pribadi), pertukaran stabil (rahasia mendalam). Dalam media digital, tahap orientasi terjadi melalui komentar publik di beranda FYP (For Your Page), sementara tahap afektif muncul via direct message yang menyinggung pengalaman seseorang.
Self disclosure (keterbukaan diri) juga merupakan bagian dari penetrasi sosial yang didefinisikan sebagai proses mengembangkan keintiman yang lebih dalam dengan orang lain melalui keterbukaan atau saling membuka diri (Griffin, 2018).
Self disclosure pada sebuah hubungan yang baru akan ditentukan melalui dua proses yaitu depth of penetration dan breadth of penetration. Depth of penetration merupakan tingkat kedalaman pengungkapan pada area atau aspek tertentu dari kehidupan seseorang, sementara breadth of disclosure adalah rentang area atau keragaman dalam kehidupan seseorang saat proses pengungkapan sedang berlangsung.
Era 2026, media digital TikTok mempercepat penetrasi melalui fitur komentar, fitur follow ataupun fitur direct message, yang mana hal itu sangat memungkinkan seseorang mengungkapkan suatu hal pada orang lain.
Contohnya, dua individu yang berkomunikasi melalui direct message TikTok hingga muncul “streak” yang kini sedang banyak digunakan, mulai dari berbagi video edukasi, hiburan, kontroversi atau berbagi pengalaman satu dengan yang lain. Adanya fitur “streak” ini juga bisa menjadi tanda sejauh mana kedekatan antara dua individu tersebut jika dibandingkan dengan dua individu yang hanya sekedar mutual di media sosial saja.
Adapun tahapan-tahapan seseorang dalam menjalin hubungan di TikTok mulai dari :
1. Saling berteman di akun TikTok (Orientasi)
2. Memulai percakapan ringan seperti menanyakan kabar atau saling mengirim konten TikTok (Afektif Eksploratif)
3. Menjalin percakapan intens melalui direct message setiap hari hingga mengetahui kepribadian satu sama lain dan munculnya “streak” pada beranda direct message TikTok (Afektif)
4. Menceritakan hal hal dalam diri masing masing yang berhubungan dengan konten konten yang ada di TikTok (Stabil)
Tahapan diatas dapat menyimpulkan bahwa kedekatan dua orang dapat diteliti dan dikaitkan dengan teori Penetrasi Sosial melalui gambaran lapisan bola bawang. Fitur “streak” pada TikTok juga dapat membantu dua orang menjalin hubungan intens dan melalui lapisan bawang yang paling dalam, dimana kedua orang saling mengungkapkan hal hal rahasia dalam dirinya.
Namun, fitur “streak” pada TikTok dapat menyebabkan dispenetrasi yang diakibatkan karena dua orang yang menjalin percakapan pada direct message memiliki kesibukan yang memungkinkan “streak” padam. Hal ini dapat memunculkan banyak persepsi seperti kecewa, sakit hati atau acuh.
Peristiwa overdisclosure juga memungkinkan dapat terjadi dalam hubungan dua orang pada platform TikTok, yang mana salah satu atau kedua diantaranya saling mengungkapkan cerita yang terlalu rahasia. Hal ini menyebabkan banyak persepsi muncul dari lawan bicara yang menganggap cerita tersebut masuk ke ranah privasi.
Kedalaman dan luas pengungkapan suatu hal dapat dipengaruhi oleh faktor seperti privasi platform, budaya, dan konteks. Di media sosial, simbol visual seperti foto profil atau emoji memperkaya proses penetrasi yang dapat memvisualisasikan diri kita, tetapi ghosting atau penghentian komunikasi secara mendadak dapat memperlihatkan batas penetrasi yang dimunculkan suatu individu. Tak hanya itu, berbagai fitur seperti sembunyikan cerita/postingan, batal ikuti akun, blokir, bisukan pembaruan atau nonaktifkan akun juga dapat membuktikan batas penetrasi sosial seseorang pada pengguna lain.
Tantangan utama penetrasi sosial adalah asimetri, di mana satu individu mengungkap lebih banyak pendapat yang menyebabkan ketidaknyamanan lawan bicara. Seperti halnya peristiwa overdiclosure, asimetri ini solusinya terletak pada pengelolaan persepsi melalui komunikasi tentang proses pengungkapan itu sendiri. Apakah seseorang menganggapnya tidak pantas dibicarakan atau mungkin menganggap hal yang disampaikan adalah privasi.
Pada akhirnya, Teori penetrasi sosial memberikan gambaran bagaimana proses interaksi dapat berjalan melalui 4 tahap yaitu orientasi, afektif eksploratif, afektif dan stabil. Peristiwa selfdisclosure juga berperan penting dalam interaksi kedua individu dalam hubungan di platform TikTok.
Dari teori ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa seseorang selalu melewati tahapan tahapan dalam berkomunikasi layaknya lapisan pada bawang yang tak semua orang dapat melewati tahapan tersebut. Jika tidak berhubungan hingga lapisan terdalam, maka hubungan tersebut bisa dianggap dispenetrasi ataupun disebabkan karena peristiwa asimetri pada kedua pihak yang menjalankan komunikasi.
Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro.














