Menurunnya Rasa Kepercayaan pada Pasangan Akibat Pemberitaan Perselingkuhan di Media Sosial dalam Perspektif Teori Kultivasi

Oleh: Adhinda Dwi Riena Iriani | Setiap hari individu berhadapan dengan berbagai tayangan media, mulai dari hiburan di media sosial, berita televisi, hingga konten gosip daring. Informasi tersebut hadir secara terus- menerus dan nyaris tanpa jeda.

Intensitas paparan ini menyebabkan individu secara perlahan membangun persepsi tentang realitas sosial berdasarkan apa yang sering mereka lihat dan konsumsi di media. Akibatnya, batas antara realitas yang dialami secara langsung dan realitas yang dikonstruksi media menjadi semakin kabur.

Konsumsi media yang berulang menciptakan kondisi di mana media tidak lagi sekadar berfungsi sebagai sumber informasi, melainkan menjadi ruang yang dianggap merepresentasikan realitas sosial.

Topik-topik yang sering ditampilkan, viral, serta mendapat perhatian luas dari publik secara perlahan membentuk persepsi kolektif tentang dunia sosial. Proses ini kerap terjadi tanpa disadari, sehingga individu menerima gambaran media sebagai sesuatu yang normal dan umum terjadi dalam kehidupan nyata.

Salah satu fenomena yang saat ini ramai diperbincangkan di media sosial adalah maraknya kasus perselingkuhan yang berujung pada keretakan hubungan, baik dalam pacaran maupun rumah tangga.

Di era digital, kasus perselingkuhan dengan cepat tersebar melalui berbagai platform media sosial, mulai dari unggahan pribadi, utas viral, hingga konten reaksi dari warganet. Paparan berulang terhadap kasus-kasus ini menciptakan kesan bahwa perselingkuhan merupakan fenomena yang umum dan sulit dihindari dalam sebuah hubungan.

Salah satu contoh kasus yang sempat menggemparkan media sosial adalah perselingkuhan Shafno, mantan suami dari Janiyar. Kasus ini menjadi viral dan memunculkan tren “Finding Shafno”, di mana banyak kreator berlomba-lomba membuat konten untuk membahas dan menelusuri sosok tersebut.

Masifnya pemberitaan dan reaksi publik tidak hanya berdampak pada korban secara langsung, tetapi juga menimbulkan efek psikologis bagi audiens. Pengalaman traumatis yang diceritakan korban dapat memicu rasa takut, kecemasan, dan kecurigaan berlebih pada penonton, terutama mereka yang sedang atau akan menjalani hubungan.

Kepercayaan merupakan komponen dinamis dan fundamental dalam sebuah hubungan interpersonal (Johnson & Johnson, 1997). Ketika individu terus-menerus terpapar narasi perselingkuhan, kepercayaan terhadap pasangan dapat terkikis, meskipun tidak terdapat pengalaman langsung yang mendukung kecurigaan tersebut.

Data Statistik Indonesia menunjukkan bahwa jumlah kasus perceraian di Indonesia mencapai 516.334 kasus pada tahun 2022, meningkat 15,31% dibandingkan tahun 2021 yang berjumlah 447.743 kasus (Hasanah, 2024). Media sosial sebagai platform interaktif berbasis internet turut berkontribusi dalam meningkatnya tren perselingkuhan dengan memfasilitasi interaksi, pertukaran informasi, dan keterlibatan sosial antar pengguna (Sutanto dkk., 2023).

Selain itu, paparan informasi negatif secara berulang juga berkaitan dengan meningkatnya ketidakpastian dan kecemasan individu. Ketidakpastian terhadap berbagai peristiwa sosial dapat membuat individu terjebak dalam pikiran yang tidak terkendali dan menimbulkan rasa tidak nyaman secara psikologis (Carleton, 2016).

Kondisi ini semakin diperkuat oleh fakta bahwa kelompok usia remaja hingga dewasa muda merupakan pengguna media sosial tertinggi, sehingga mereka menjadi kelompok yang paling rentan terhadap pengaruh narasi perselingkuhan yang terus berulang di ruang digital.

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui gagasan Cultivation Theory atau teori kultivasi yang pertama kali diperkenalkan oleh George Gerbner bersama para koleganya pada tahun 1969. Teori ini menitikberatkan pada pengaruh paparan media, khususnya televisi, terhadap sikap dan perilaku individu dalam jangka panjang.

Menurut teori kultivasi, individu yang terus- menerus terpapar jenis tayangan tertentu akan membentuk persepsi bahwa realitas sosial di sekitarnya serupa dengan gambaran yang ditampilkan media tersebut (Junaidi, 2018).

Semakin sering suatu gambaran muncul, semakin wajar dan normal hal tersebut dianggap. Ketika media secara konsisten menampilkan kasus perselingkuhan sebagai isu yang dominan, publik perlahan menginternalisasi gambaran tersebut sebagai realitas umum dalam hubungan romantis.

Proses kultivasi bekerja secara halus dan bertahap. Tidak ada satu tayangan atau satu berita yang secara langsung mengubah cara pandang seseorang, tetapi paparan yang berulang dan konsisten menanamkan pola pikir tertentu yang kemudian dianggap sebagai kebenaran sosial.

Dalam konteks hubungan interpersonal, proses ini dapat berdampak pada menurunnya rasa aman dan kepercayaan terhadap pasangan. Individu menjadi lebih waspada, curiga, dan cenderung menggeneralisasi pengalaman orang lain sebagai potensi ancaman dalam hubungannya sendiri. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat memicu konflik, kecemasan emosional, hingga ketegangan dalam relasi yang sebenarnya sehat.

Oleh karena itu, kesadaran kritis menjadi kunci dalam menghadapi pengaruh media. Mengonsumsi media secara selektif, berimbang, dan reflektif dapat membantu individu membedakan antara realitas yang dikonstruksi media dan pengalaman nyata.

Media memang memiliki peran besar dalam membentuk cara pandang masyarakat, namun individu tetap memiliki kendali untuk menyikapi informasi secara lebih bijak. Di tengah arus informasi yang terus mengalir, kesadaran menjadi fondasi penting bagi terbentuknya persepsi yang lebih seimbang, sehat, dan tidak mudah terpengaruh oleh narasi negatif yang berulang.

Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro.

Daftar Pustaka:

Junaidi, J. (2018). Mengenal teori kultivasi dalam ilmu komunikasi. JURNAL SIMBOLIKA Research and Learning in Communication Study, 4(1), 42–51.

Syakira, N. R., Ifdil, I., & Khairati, A. (2025). Analisis doomscrolling pada mahasiswa berdasarkan jenis kelamin, usia, dan intensitas penggunaan media sosial.

Maulita, A. N., Setiawan, N. A., & Fitriani, A. (2025). Ketidakpercayaan istri terhadap suami akibat berita perselingkuhan di media sosial.

Berkomentarlah secara bijaksana dan hindari menyinggung SARA. Komentar sepenuhnya menjadi tanggungjawab komentator.