Peran Media dalam Membentuk Tren Main Padel: Analisis Teori Agenda Setting

Oleh: Joice Aprilia Dharmawansyah | Padel merupakan cabang olahraga raket yang dimainkan secara ganda di lapangan berdinding dengan ukuran lebih kecil dari lapangan tenis, serta menggunakan raket khusus tanpa senar. Permainan ini menggabungkan unsur tenis dan squash sehingga relatif mudah dimainkan dan menekankan aspek sosial serta kerja sama antar pemain.

Dalam beberapa tahun terakhir, padel mulai berkembang dan dikenal di Indonesia khususnya wilayah perkotaan, seiring dengan munculnya fasilitas dan komunitas padel. Perkembangan tersebut membuat padel tidak hanya dipandang sebagai aktivitas olahraga, tetapi juga sebagai fenomena sosial yang menarik perhatian masyarakat.

Tren main padel yang semakin popular di kalangan masyarakat perkotaan tidak dapat dilepas dari peran media sosial dalam membentuk perhatian public. Dalam perspektif teori Agenda Setting, media memiliki kekuasaan untuk menentukan isu apa yang dianggap penting oleh masyarakat.

Melalui paparan berulang di media sosial, unggahan influencer, serta pemberitaan gaya hidup, padel terus ditampilkan sebagai olahraga yang modern, seru, dan relevan dengan kehidupan masa kini yang berakibat padel tidak hanya dipandang sebagai alternatif olahraga, melainkan sebagai tren yang patut diikuti.

Peran agenda media terlihat ketika padel lebih disorot atau lebih sering muncul dalam ruang publik dari pada olahraga lain. Media secara tidak langsung membuat masyarakat penasaran untuk bermain padel, tetapi dengan menempatkannya secara konsisten dalam sorotan, media membentuk persepsi bahwa padel adalah pilihan yang “tepat” dan sesuai dengan gaya hidup kekinian.

Dalam konteks ini, perhatian masyarakat diarahkan untuk melihat padel sebagai aktivitas yang memiliki nilai sosial, bukan hanya semata-mata aktivitas fisik untuk menjaga kesehatan.

Dari sisi konsumtivisme, tren padel menunjukan bagaimana agenda media mendorong pola konsumsi gaya hidup sekaligus membentuk identitas sosial. Bermain padel keral kali direpresentasikan bersama perlengkapan tertentu, outfit olahraga yang stylish, serta akses ke fasilitas khusus yang identik dengan lingkungan perkotaan dan komunikas eksklusif.

Representasi ini menyebabkan olahraga bergeser maknanya menjadi bentuk konsumsi simbolik dimana partisipasi dalam tren lebih didorong oleh citra, pengalaman sosial, dan pengakuan lingkungan sekitar. Akibatnya padel tidak hanya dipahami sebagai aktivitas fisik tetapi juga sebagai simbol status dan gaya hidup urban yang dianggap ideal.

Hal ini mengidentifikasikan bahwa popularitas main padel tidak sepenuhnya lahir dari kebutuhan olahraga masyarakat, melainkan merupakan hasil dari proses agenda setting yang membentuk cara pandang publik.

Media berperan besar dalam menentukan apa yang dianggap penting, relevan, dan layak untuk diikuti dalam kehidupan sosial sehingga tren main padel berkembang lebih karena sorotan dan penonjolan isu tertentu. Oleh karena itu, masyarakat perlu bersikap lebih kritis dalam menyikapi tren yang muncul agar tidak sepenuhnya terjebak dalam agenda media tanpa mempertimbangkan kebutuhan serta konteks pribadi.

Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro.

Berkomentarlah secara bijaksana dan hindari menyinggung SARA. Komentar sepenuhnya menjadi tanggungjawab komentator.