Oleh: Nala Tiksna Wisesa | Media sosial merupakan sarana komunikasi digital yang memungkinkan individu berinteraksi dan mengekspresikan diri tanpa batasan ruang dan waktu. Perkembangan media sosial yang pesat memberikan dampak signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, serta membuka ruang partisipasi aktif melalui umpan balik, komentar, dan penyebaran informasi secara cepat (Putri, Nurwati, & S., 2016).
Salah satu platform media sosial yang banyak digunakan adalah Instagram, yaitu aplikasi berbasis visual yang memungkinkan pengguna mengambil, mengedit, dan membagikan konten digital (Anon, n.d.). Berbagai fitur yang dimiliki Instagram turut membentuk cara individu menampilkan diri dan membangun interaksi di ruang digital.
Fitur multiple account pada Instagram memungkinkan pengguna mengelola lebih dari satu akun dalam satu aplikasi. Akun kedua (second account) biasanya bersifat lebih pribadi, tertutup, bahkan anonim, serta ditujukan bagi lingkaran sosial yang terbatas. Instagram, sebagai platform visual interaktif, tidak hanya memfasilitasi kebutuhan estetika dan eksistensi sosial, tetapi juga berkembang menjadi ruang dinamis dalam membangun identitas digital yang kompleks.
Penggunaan akun kedua memberikan kenyamanan karena memungkinkan individu mengekspresikan diri secara lebih bebas tanpa tuntutan citra ideal seperti pada akun utama. Namun, praktik ini juga memunculkan dampak sosial, seperti kecenderungan pengguna menjadi lebih tertutup terhadap lingkungan sosial yang lebih luas karena pengalaman personal lebih sering dibagikan melalui akun kedua dibandingkan akun utama (Prihantoro et al., 2020).
Motif penggunaan second account digunakan informan untuk membagikan cerita keluh kesah kehidupan sehari-hari dan digunakan untuk membagikan foto-foto random karena pengguna merasa lebih bebas membagikan postingan di second account.
Berdasarkan motif tersebut, pengguna ketika menggunakan second account bertujuan untuk memenuhi kebutuhan rasa aman yang dijelaskan pada motif menurut Abraham Maslow karena pengguna merasa lebih nyaman dan bebas untuk membagikan cerita keluh kesahnya di second account dan juga merasa ada jaminan keamanan karena pada second account hanya diikuti oleh orang-orang tertentu saja.
Sedangkan pada main account informan merasa ada batasan sehingga motif penggunaan main account digunakan informan untuk mengunggah foto-foto yang dianggap pengguna bagus dan estetik dengan harapan dapat memberikan citra yang baik jika dilihat oleh pengguna lain. Pada main account pengguna juga merasa kurang bebas dalam mengekspresikan diri, dengan alasan inilah sehingga saat ini banyak yang menggunakan second account Instagram.
Hal ini berkaitan erat dengan teori uses and gratification yang menjelaskan khalayak pada dasarnya menggunakan media massa berdasarkan motif-motif tertentu. Motif merupakan sekumpulan kepentingan individu, sehingga dalam teori uses and gratification seseorang menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya (Child & Haridakis, 2018). Untuk melihat lebih jauh perbedaan motif, peneliti memilih menggunakan teori dramaturi Erving Goffman dalam menganalisa perbedaan motif pada panggung depan dan panggung belakang media sosial instagram.
Fenomena tersebut dapat dianalisis menggunakan teori dramaturgi yang dikemukakan oleh Erving Goffman. Teori Dramaturgi menjelaskan bahwa kehidupan sosial manusia dapat dianalogikan dengan sebuah panggung drama. Dalam interaksi sosial, individu bertindak seperti aktor yang memainkan peran tertentu sesuai dengan situasi dan audiens yang dihadapi.
Goffman membagi ruang interaksi menjadi dua: front stage (panggung depan) dan bak stage (panggung belakang). Front stage adalah tempat di mana individu menampilkan versi terbaik dari diri mereka kepada publik. Dalam konteks Instgaram, hal ini dapat dilihat dari penggunaan akun utama (main account) yang bersifat publik, dikurasi secara estetis dan mencerminkan citra ideal.
Sementara itu, back stage adalah ruang di mana individu bisa bersikap lebih autentik, terbuka, dan tanpa tekanan sosial. Dalam hal ini, second account mewakili wilayah back stage yang memberikan penggunaan kebebasan berekspresi secara lebih jujur dan personal. Melalui kerangka dramaturgi, interaksi di second account dapat dipahami sebagai upaya manajemen kesan yang bersifat internal, personal, dan emosional.
Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro.















