Oleh: Hopiatul Islami | Perubahan cara memaknai dunia kerja semakin terlihat, terutama ketika Gen Z menunjukkan kecenderungan memilih kerja jarak jauh (remote). Banyak perusahaan mengeluh sulit menarik dan mempertahankan karyawan muda. Di sisi lain, Gen Z justru merasa kerja di kantor (onsite) tidak lagi menarik.
Saat ini, mereka lebih mengutamakan fleksibilitas, kebebasan lokasi, dan sistem kerja yang lebih cair. Pertanyaannya, apakah pilihan Gen Z menjauh dari dunia kantor ini menunjukkan bahwa komunikasi organisasi belum sepenuhnya selaras dengan kebutuhan generasi ini?
Jika dilihat dari kacamata manajemen komunikasi, pilihan Gen Z untuk kerja remote bukan sekadar soal ingin santai atau menghindari tanggung jawab. Ini adalah reaksi terhadap model komunikasi organisasi yang bisa jadi tidak lagi relevan dengan cara Gen Z ini memahami kerja.
Gen Z sendiri tumbuh bersama teknologi digital. Mereka terbiasa berkomunikasi secara cepat, terbuka, dan dua arah baik melalui media sosial, chat, maupun platform kolaboratif lainnya. Ketika memasuki dunia kerja, ekspektasi tersebut turut terbawa.
Sedangkan sejumlah organisasi masih menerapkan pola komunikasi yang cenderung satu arah, di mana keputusan disampaikan dari atas ke bawah dan karyawan diharapkan mengikuti kebijakan yang ada. Dalam kondisi ini, ruang dialog dan proses pertukaran makna belum sepenuhnya terfasilitasi.
Karl Weick, tokoh dalam teori komunikasi organisasi, melalui konsep sensemaking, menjelaskan bahwa organisasi terbentuk dari bagaimana anggotanya memaknai realitas melalui komunikasi. Ini menunjukan bahwa kerja bukan hanya soal tugas dan target, tetapi juga soal “apa arti bekerja di sini bagi saya?”.
Ketika komunikasi organisasi belum sepenuhnya membantu karyawan terutama Gen Z dalam memahami makna peran dan keberadaan mereka, tingkat keterikatan emosional pun cenderung melemah.
Dalam banyak situasi, penerapan kerja onsite justru dapat memperlebar jarak antara organisasi dan karyawan. Kehadiran fisik di kantor belum tentu membuat karyawan merasa terhubung atau dilibatkan, terutama ketika komunikasi yang terjadi masih bersifat satu arah.
Rapat sering kali menjadi ruang penyampaian instruksi tanpa dialog. Di sisi lain, budaya kerja yang lebih menekankan kedisiplinan jam hadir dibandingkan kualitas dan dampak hasil kerja membuat sebagian Generasi Z merasa kontribusinya kurang dihargai.
Dalam kondisi seperti ini, rasa percaya dan keterlibatan emosional pun sulit tumbuh meskipun karyawan hadir setiap hari di kantor. Dari sini, kerja remote menjadi pilihan yang masuk akal, bukan karena ingin lepas dari kerja, tetapi karena ingin bekerja dalam sistem komunikasi yang lebih sehat bagi Gen Z.
Dalam manajemen komunikasi strategis, James E. Grunig pada Excellence Theory menekankan pentingnya komunikasi dua arah yang seimbang antara organisasi dan publik internalnya. Karyawan Gen Z kurang suka dipandang hanya sebagai pelaksana tugas, mereka ingin dianggap juga sebagai mitra dialog yang memiliki perspektif dan aspirasi yang perlu didengar.
Ketika kebijakan kerja, termasuk kewajiban hadir di kantor (onsite) diterapkan tanpa pendekatan komunikasi yang empatik dan partisipatif, pesan yang diterima khususnya oleh Gen Z sering kali berbeda dari yang dimaksudkan.
Gen Z ini tidak lagi memandang kebijakan tersebut sebagai bentuk profesionalisme atau disiplin, mereka lebih cenderung merasakannya sebagai upaya kontrol atau pembatasan kebebasan yang dapat menurunkan motivasi. Oleh karena itu, penting bagi organisasi untuk merancang komunikasi yang transparan dan responsif terhadap kebutuhan serta gaya kerja generasi muda terutama Gen Z ini, agar kebijakan dapat dipahami dan diterima secara positif.
Fiver sebuah platform freelance global, belum lama ini merilis hasil survei terkait preferensi kerja Gen Z di Amerika Serikat (AS). Survei tersebut menunjukkan bahwa mayoritas anggota Gen Z lebih tertarik mengeksplorasi peluang bekerja sebagai freelancer atau pekerja lepas dibandingkan menempuh jalur pekerjaan kantoran konvensional yang bersifat tetap dan rutin.
Temuan ini mencerminkan adanya perubahan signifikan arah baru karier Gen Z di Luar Dunia Kantor yang cenderung menghargai fleksibilitas, kebebasan dalam menentukan waktu dan tempat kerja, serta kesempatan untuk mengembangkan berbagai keahlian secara mandiri, daripada mengikuti struktur kerja yang lebih kaku.
Kerja remote sering kali hadir dengan budaya komunikasi yang berbeda. Fokus pada output, komunikasi lebih ringkas, dan relasi kerja yang cenderung horizontal membuat Gen Z merasa dihargai.
Selain itu, kehadiran new media juga memudahkan Gen Z menyuarakan pengalaman dan pandangan mereka di dunia kerja baik yang positif maupun negatif, sehingga cerita tentang komunikasi internal yang tidak sehat, atasan yang kurang terbuka, atau budaya kerja yang terlalu kaku dapat dengan mudah membentuk persepsi publik terhadap perusahaan. Hal ini dapat menimbulkan dampak yang lebih luas di luar perusahaan, memengaruhi reputasi, daya tarik perusahaan, dan persepsi calon karyawan terhadap lingkungan kerja yang ditawarkan.
Penting untuk dipahami juga bahwa Gen Z bukan menolak adanya struktur, aturan, atau kepemimpinan dalam dunia kerja. Tetapi, yang mereka kritik adalah bentuk komunikasi yang kaku dan tidak memberi ruang bagi mereka untuk menyampaikan pendapat.
Mereka menghargai kepemimpinan yang mendengarkan, menjelaskan, dan melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan, sehingga hubungan antara atasan dan bawahan menjadi lebih terbuka dan saling menghargai.
Jika perusahaan ingin Gen Z kembali melihat kantor sebagai ruang yang relevan, maka yang perlu dibenahi bukan hanya kebijakan kerja, tetapi cara berkomunikasi. Lebih banyak dialog, transparansi, kepercayaan dan mengurangi kontrol simbolik serta instruksi satu arah.
Fenomena Gen Z yang memilih kerja remote adalah cermin bagi organisasi. Selama manajemen komunikasi organisasi belum berubah, Gen Z akan terus melangkah pergi, bukan untuk menghindari pekerjaan tetapi menjauh dari sistem dan cara kerja yang sudah tidak lagi mereka pahami atau rasakan maknanya.
Penulis merupakan Mahasiswa Magister Komunikasi Korporat Universitas Paramadina.















