Banjir Aceh & Sumatra: Transparansi Donasi sebagai Penjaga Reputasi Organisasi

Oleh: Ina Barina | Penghujung 2025, puluhan daerah di Provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat tengah dilanda banjir besar dan longsor. Bencana ini menimbulkan dampak kemanusiaan luar biasa dan turut mengundang gelombang solidaritas publik yang mengalir deras lewat donasi digital.

Namun, dibalik jutaan bahkan milyaran rupiah yang berpindah hanya dengan satu sentuhan layar, tuntutan kepercayaan jadi jauh lebih berat. Ketika bantuan tak lagi diserahkan tangan ke tangan melainkan platform daring, transparansi menjadi nyawa reputasi organisasi sosial. Tanpa kejelasan laporan dan bukti nyata di lapangan, kepercayaan publik bisa runtuh secepat donasi dikirimkan.

Melansir data BNPB, tercatat bencana di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat telah membuat ratusan ribu orang mengungsi, ratusan ribu rumah rusak, puluhan akses wilayah lumpuh hingga ribuan korban hilang dan meninggal dalam hitungan hari. Pemerintah Daerah bahkan telah banyak menyampaikan keluhan ketidakmampuan penanganan bencana karena dampak yang luar biasa menyeluruh di puluhan Kabupaten/Kota.

Kondisi darurat ini jelas secara terarah menggerakkan banyak organisasi sosial pada kampanye-kampanye penggalangan dana dan juga aksi turun langsung ke daerah terdampak. Bersamaan dengan gerakan tersebut, tantangan mengelola harapan publik, memastikan akuntabilitas penggunaan dana hingga menjaga reputasi di mata publik pun mengikuti organisasi sosial.

Terlebih lagi, saat ini kita berada dalam era dimana donasi banyak dilakukan hanya melalui layar saja atau secara digital. Situasi ini menempatkan transparansi tidak hanya sebagai pilihan komunikasi, melainkan pilar utama manajemen reputasi dari sebuah organisasi sosial di era digital.

Pentingnya Reputasi Organisasi Sosial di Era Donasi Digital

Berdasarkan gagasan teori reputasi korporat menurut Charles J. Fombrun, reputasi menjadi nilai strategis yang memengaruhi dukungan stakeholder, peluang kolaborasi, dan kelangsungan organisasi jangka panjang.

Ketika organisasi dihadapkan pada krisis seperti distribusi bantuan bencana, reputasi menentukan sejauh mana publik tetap percaya dan bersedia memberi dukungan. Seperti bagaimana publik percaya pada Yayasan Kitabisa karena reputasi positifnya, dukungan dalam platform Kitabisa.com terus mengalir melalui berbagai pembuat kampanye.

Berbeda cerita apabila organisasi sosial memiliki reputasi negatif seperti laporan tidak terperinci hingga penyelewengan dana donasi, tentunya dukungan juga turut terdampak. Publik akan meragukan tanggungjawab organisasi tersebut dan memilih untuk melemparkan dukungannya ke organisasi sosial lain yang menjadikan transparansi sebagai salah satu pilar operasionalnya.

Apalagi jika berbicara tentang era donasi digital, transparansi menjadi kunci utama reputasi dari sebuah organisasi sosial. Tanpa transparansi, reputasi sulit untuk dibangun di tengah era informasi serba cepat ini.

Transparansi sebagai Strategi Kunci Organisasi Sosial di Era Donasi Digital

Dari perspektif Situational Crisis Communication Theory (SCCT), organisasi harus menyesuaikan respon dengan tingkat atribusi tanggung jawab publik. Artinya, semakin besar persepsi bahwa organisasi punya andil atau kemampuan untuk mencegah masalah, semakin agresif respons yang diperlukan.

Dalam konteks penanganan bencana, dimana ekspektasi publik adalah kecepatan, akurasi dan akuntabilitas maka strategi komunikasi proaktif berbasis bukti paling efektif untuk meminimalkan resiko reputasi.

Selama masa penanganan bencana banjir besar dan longsor di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, Kitabisa secara aktif membagikan upaya penyaluran bahkan sampai rincian pengggunaan donasi di media sosial.

Tranparansi ini menjadi langkah strategis untuk sebuah organisasi sosial seperti Kitabisa dalam mencegah masalah, yakni penurunan kepercayaan publik dan juga tuduhan penyelewengan dana donasi.

Organisasi perlu untuk menunjukkan tindakan konkret, bukan hanya sekedar pernyataan untuk mempertahankan reputasinya. Update, laporan terperinci hingga dokumentasi mampu berfungsi sebagai bukti untuk menghilangkan ruang keraguan publik.

Kitabisa: Upaya Transparansi dalam Kampanye Donasi Banjir dan Tanah Longsor Aceh, Sumatera Utara serta Sumatera Barat

Dalam pemberian bantuan bencana kali ini, Kitabisa sebagai sebuah yayasan atau organisasi sosial yang bergerak menggunakan platform digital, membuka akses pengadaan kampanye demi kampanye penggalangan dana. Sebagai langkah komunikasi andalan, transparansi dari Kitabisa tidak hanya sekedar dokumentasi penyaluran tetapi juga laporan terperinci.

Pada salah satu ruang kampanye donasi oleh Ferry Irwandi, Kitabisa membukakan laporan yang sukses menjaga kepercayaan publik. Mereka mempublikasikan update lengkap mengenai pertanggungjawaban penggunaan dana untuk kebutuhan apa saja, wilayah mana saja dan juga status penyaluran.

Tidak hanya itu, halaman-halaman kampanye dalam Kitabisa.com juga menampilkan rekap penyaluran bantuan yang sama terperincinya seperti yang diunggah di media sosial. Tindakan ini mampu menunjukkan adanya praktik transparansi operasional dari Kitabisa yang tidak hanya bisa diverifikasi oleh donatur, tetapi juga publik luas.

Langkah transparansi dari Kitabisa ini sesuai dengan prinsip dialogis dalam komunikasi publik dimana tidak hanya memberi tahu informasi satu arah, tetapi juga menyediakan ruang verifikasi dan keterlibatan.

Upaya keterbukaan ini memperkecil celah informasi yang biasanya diisi oleh rumor atau spekulasi, serta menjaga legitimasi platform Kitabisa.com sebagai perantara antara pembuat kampanye, donatur dan juga penerima manfaat.

Meski hanya melalui platform digital, dukungan terhadap berbagai kampanye yang ada dalam tanggungjawab Kitabisa masih terus dipercaya hingga saat ini. Donasi untuk bencana Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat bahkan banyak yang melebihi target pembuat kampanye.

Kitabisa berhasil menjadikan transparansi sebagai pilar reputasinya sebagai organisasi sosial yang terpercaya mulai dari pengumpulan dana hingga pendistribusian bantuan dengan pelaporan rinci, tanpa celah isu.

Penutup: Transparansi sebagai Investasi Reputasi Organisasi Sosial

Transparansi bukan hanya alat komunikasi reaktif saat krisis, melainkan juga investasi reputasi jangka panjang. Organisasi sosial yang beroperasi dalam ekosistem digital seperti Kitabisa harus menjadikan transparansi sebagai bagian dari manajemen yang kredibel.

Kasus penyaluran donasi pada banjir Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat menunjukkan bahwa publik tidak hanya ingin berkontribusi, tetapi juga memastikan kontribusinya sampai kepada yang membutuhkan. Memberi mereka akses yang jelas untuk memverifikasi penggunaan dana adalah bentuk respect dan manajemen reputasi yang cermat.

Penulis merupakan Mahasiswi Pasca Sarja Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina.

Berkomentarlah secara bijaksana dan hindari menyinggung SARA. Komentar sepenuhnya menjadi tanggungjawab komentator.