Oleh: Fauzan Jatinika Abror | Di Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh, banjir dan longsor telah merampas banyak hal sekaligus: rumah yang dibangun dengan penuh cinta, jalan yang menghubungkan satu kehidupan dengan kehidupan lain, serta rasa aman yang selama ini menjadi pegangan sehari-hari.
Dalam hitungan jam, wilayah yang sebelumnya ramai oleh aktivitas warga berubah menjadi genangan air dan tumpukan lumpur. Suara tangis, panggilan, dan doa bercampur menjadi satu dalam udara yang basah oleh hujan dan kecemasan.
Namun seperti yang selalu terjadi di negeri ini, ketika bencana datang, rakyat Indonesia tidak pernah tinggal diam. Mereka hadir tanpa menunggu perintah. Mereka datang sebelum bantuan terorganisir tiba. Mereka mengulurkan tangan bahkan ketika tangan mereka sendiri gemetar oleh ketidakpastian.
Relawan berjalan kaki menyusuri desa yang terputus. Komunitas mengantar bantuan dengan perahu seadanya. Warga dari berbagai kota menggalang dana dan mengalirkannya ke titik-titik terdampak. Di saat banyak orang kehilangan segalanya, masyarakat justru menunjukkan bahwa kepedulian tidak pernah hilang dari Indonesia.
Namun, di tengah gelombang kepedulian ini, muncul sebuah pernyataan publik dari seorang anggota DPR RI, Endipat Wijaya, yang menyinggung penggalangan dana masyarakat. Komentar itu membuat banyak warga merasa upaya mereka seolah dipertanyakan. Padahal, mereka bergerak bukan untuk bersaing dengan siapa pun, melainkan karena hati mereka tidak tega melihat sesama kesulitan.
Di saat seperti ini, rakyat tidak butuh perbandingan. Rakyat butuh dukungan. Rakyat tidak meminta pengakuan. Rakyat hanya ingin jalan mereka dibuka, listrik mereka menyala kembali, dan sinyal komunikasi hadir agar kabar keluarga tidak tenggelam bersama derasnya air.
Situasi ini menampakkan sebuah fenomena komunikasi yang penting: ketika pesan publik tidak selaras dengan harapan masyarakat, kepercayaan dapat terganggu. Dalam konteks bencana, kondisi ini dikenal dalam Teori Komunikasi Krisis (Crisis Communication Theory), yang menekankan bahwa komunikasi dari pihak berwenang harus empatik, konsisten, dan membantu, bukan menambah kebingungan atau melukai perasaan publik.
Ketidaksinkronan pesan di tengah krisis dapat memperlambat pemulihan sosial karena masyarakat merasa tidak dihargai. Inilah sebabnya, komunikasi negara harus sejalan dengan solidaritas masyarakat, bukan berseberangan dengan semangat gotong royong yang begitu kuat di lapangan” setelah paragraf Namun, di tengah gelombang kepedulian ini, muncul sebuah pernyataan publik dari seorang anggota DPR RI.
Bencana ini juga memperlihatkan betapa pentingnya akses—bukan hanya jalan fisik, tetapi juga akses informasi dan akses perlindungan. Banyak wilayah terisolasi bukan karena tidak ada niat membantu, tetapi karena jalurnya tertutup. Banyak warga tidak mengetahui perkembangan situasi bukan karena tidak peduli, tetapi karena listrik dan komunikasi padam berhari-hari. Dalam keadaan seperti ini, waktu bukan sekadar angka—waktu adalah nyawa.
Oleh karena itu, negara perlu hadir lebih cepat, lebih peka, dan lebih mempermudah. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah memiliki peran penting dalam memastikan akses jalan segera dibuka, jalur alternatif disiapkan, listrik dipulihkan, dan komunikasi dihidupkan kembali. Ketika negara bergerak seirama dengan rakyat, proses pemulihan tidak hanya lebih cepat, tetapi juga lebih berarti.
Apa yang kita lihat hari ini bukan sekadar bencana. Ini adalah pengingat bahwa bangsa ini paling kuat ketika saling memeluk, bukan saling menuding. Bahwa rakyat Indonesia, dengan segala kesederhanaannya, justru menjadi kekuatan pertama yang menopang bahu para korban. Kini, mereka berharap negara berdiri di samping mereka—bukan di belakang, bukan di kejauhan, tetapi bersama mereka dalam langkah yang sama.
Pemulihan tidak hanya tentang memperbaiki yang rusak. Pemulihan adalah tentang mengembalikan rasa percaya bahwa ketika kita jatuh, ada tangan yang siap mengangkat kita kembali. Dan tangan itu haruslah tangan bangsa—tangan rakyat dan tangan pemerintah—yang saling menggenggam, bukan saling melepaskan.
Semoga tanah Sumatera segera pulih. Semoga warganya segera menemukan kembali harapan. Dan semoga bangsa ini selalu ingat bahwa kita akan selalu lebih kuat ketika kita memilih untuk berjalan bersama.
Penulis merupakan mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Korporat di Universitas Paramadina.














