Dari Layar ke Lapangan: Jerhemy Owen bersama Yasmin Napper dan Axel Mencerminkan Harapan Baru untuk Daerah Sumatra

Oleh: Prince Ostheo | Di tengah derasnya arus konten media sosial yang didominasi hiburan dan sensasi, isu lingkungan kerap tenggelam dan dianggap bukan prioritas. Padahal, krisis ekologis terus terjadi dan dampaknya semakin nyata. Sumatra, yang pernah dikenal sebagai salah satu pulau dengan hutan tropis terluas di Indonesia sekaligus paru-paru ekologis penting, kini menghadapi tekanan serius akibat deforestasi dan degradasi lingkungan. 

Berdasarkan data Kementerian Kehutanan tahun 2025, deforestasi netto di hutan Sumatra pada 2024 mencapai 78.030,6 hektar. Angka deforestasi netto ini merupakan selisih antara kehilangan hutan dan upaya reforestasi yang dilakukan. Secara nasional, total deforestasi hutan Indonesia sepanjang 2024 mencapai sekitar 175.000 hektare. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa fungsi hutan sebagai penyimpan karbon, pengatur iklim, serta penyangga bencana alam terus mengalami penurunan. Dampaknya bukan hanya pada lingkungan, tetapi juga pada keselamatan dan keberlangsungan hidup masyarakat. 

Dalam situasi seperti ini, kehadiran public figure menjadi penting karena memiliki jangkauan audiens yang luas dan kemampuan mempengaruhi opini publik. Salah satu figur yang konsisten mengangkat isu lingkungan adalah Jerhemy Owen. Melalui media sosial, Jerhemy dikenal aktif dalam edukasi dan aktivisme lingkungan, khususnya terkait pelestarian alam, energi terbarukan, dan perubahan iklim. Konten yang disajikan tidak berhenti pada narasi inspiratif, tetapi juga diiringi aksi nyata seperti kampanye lingkungan dan inisiatif penanaman pohon. 

Dalam laman media sosialnya, Jerhemy Owen menyampaikan bahwa ia bersama timnya berkomitmen untuk menanam hutan kembali sebagai upaya meminimalisir risiko bencana alam di masa mendatang. Langkah ini menunjukkan bagaimana seorang public figure memiliki potensi untuk menjadi komunikator lingkungan yang berpengaruh, bukan hanya sebagai penyampai pesan, tetapi juga sebagai penggerak kesadaran dan partisipasi publik. Melalui narasi yang konsisten dan transparan, Jerhemy mendorong audiens untuk melihat pelestarian hutan sebagai tanggung jawab bersama, bukan sekadar agenda segelintir pihak. 

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Jerhemy Owen (@jerhemynemo)

Komitmen tersebut tidak berhenti di ranah digital. Dalam unggahan video instagram @jerhemynemo pada 5 Desember 2025, Jerhemy Owen bersama Yasmin Napper, Axel, dan para relawan lapangan dilaporkan telah tiba di Padang, Sumatera Barat, untuk menyalurkan bantuan hasil donasi kepada masyarakat terdampak banjir. Mereka menyampaikan bahwa banjir yang terjadi mencapai ketinggian hingga dua meter, menyebabkan sekitar 20 rumah rusak dan hanyut, serta menyisakan dua warga yang hingga kini masih dinyatakan hilang. Kehadiran mereka di lapangan menunjukkan bahwa isu lingkungan dan kemanusiaan saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. 

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Kitabisa (@kitabisacom)

Dalam perspektif Environmental Communication Theory, komunikasi lingkungan menekankan bagaimana pesan tentang alam, keberlanjutan, dan krisis ekologis dikemas agar mampu membangun kesadaran sekaligus mendorong perubahan sikap dan perilaku publik. Apa yang dilakukan Jerhemy Owen mencerminkan praktik komunikasi lingkungan yang efektif: membingkai deforestasi dan bencana alam sebagai persoalan bersama, bukan semata urusan aktivis atau pemerintah. Pesan yang disampaikan bersifat naratif, emosional, dan dekat dengan realitas kehidupan masyarakat. 

Lebih jauh, aktivitas Jerhemy menunjukkan bahwa komunikasi lingkungan tidak berhenti pada tahap awareness. Ia melampaui tahap tersebut menuju engagement dan action. Dengan turun langsung ke lapangan, berinteraksi dengan warga terdampak, dan melibatkan relawan, Jerhemy menjembatani jarak antara layar digital dan realitas lapangan. Hal ini memperkuat pesan bahwa advokasi lingkungan membutuhkan konsistensi antara kata dan tindakan. 

Fenomena ini sekaligus menandai pergeseran peran komunikator lingkungan. Jika sebelumnya komunikasi lingkungan didominasi oleh lembaga pemerintah atau organisasi non-pemerintah, kini individu dan kreator konten memiliki pengaruh besar dalam membentuk opini publik. Dalam konteks ini, Jerhemy Owen, bersama Yasmin Napper dan Axel, dapat diposisikan sebagai environmental opinion leader yang mampu memobilisasi perhatian dan kepedulian masyarakat, khususnya generasi muda. 

Meski demikian, keberhasilan komunikasi lingkungan tidak dapat dibebankan sepenuhnya pada individu. Respons publik yang berkelanjutan serta dukungan kebijakan tetap menjadi faktor penentu. Tanpa tindakan struktural dan komitmen bersama, pesan lingkungan berisiko berhenti sebagai wacana sesaat. 

Kondisi Sumatra yang kian memprihatinkan memang menuntut perhatian serius. Namun, upaya komunikasi dan aksi nyata seperti yang dilakukan Jerhemy Owen bersama rekan-rekannya menghadirkan harapan baru. Dari layar ke lapangan, mereka mengingatkan bahwa menjaga hutan dan lingkungan bukan hanya tugas segelintir orang, melainkan tanggung jawab kolektif demi masa depan yang lebih aman dan berkelanjutan. 

Penulis merupakan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro.

Berkomentarlah secara bijaksana dan hindari menyinggung SARA. Komentar sepenuhnya menjadi tanggungjawab komentator.