Penyebab Bencana: Antara Alam dan Perusakan Lingkungan

Oleh: Sulistyana | Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia semakin sering mendengar kabar tentang bencana alam. Banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, kekeringan, angin puting beliung, hingga gelombang panas seolah datang silih berganti tanpa jeda.

Di berbagai daerah, bencana tidak lagi menjadi peristiwa langka, tetapi berubah menjadi kejadian yang berulang setiap tahun. Pertanyaan pun muncul di tengah masyarakat: apakah bencana ini murni karena alam, atau ada campur tangan manusia di dalamnya?

Dalam Situational Crisis Communication Theory (SCCT), Coombs menjelaskan bahwa krisis dinilai dari seberapa besar publik menyalahkan pihak yang terlibat, di mana “crisis responsibility is the degree to which stakeholders blame an organization for a crisis event” (Coombs, 2007). Ketika bencana dipandang sebagai akibat kelalaian manusia, krisis tersebut tidak lagi dianggap murni sebagai bencana alam.

Oleh karena itu, SCCT menegaskan bahwa respons krisis harus sesuai dengan tingkat tanggung jawab yang dirasakan publik, dengan menunjukkan pengakuan masalah, empati, dan komitmen perbaikan, karena “organizations must match their crisis response strategies to the level of crisis responsibility attributed by stakeholders” (Coombs, 2010), sehingga komunikasi yang jujur dan transparan menjadi kunci menjaga kepercayaan publik.

Memahami Bencana: Apa yang Disebut “Bencana Alam”?

Secara umum, bencana sering disebut sebagai “bencana alam” karena berkaitan dengan peristiwa alam seperti hujan, gempa, letusan gunung api, atau angin kencang. Namun, persoalannya adalah dampak dari bencana tersebut kini terasa jauh lebih besar dan lebih sering dibandingkan masa lalu.

Hujan yang dulu dianggap biasa kini bisa berubah menjadi banjir besar. Lereng yang sebelumnya aman kini mudah longsor. Sungai yang dulu jernih kini meluap dan membawa lumpur serta sampah. Di sinilah muncul pertanyaan penting: apakah alam berubah, atau manusialah yang mengubah alam?

Alam Bukan Musuh, Tapi Sistem yang Punya Aturan

Alam bekerja dengan sistem dan keseimbangan. Hutan menyerap air hujan dan menahannya agar tidak langsung mengalir ke sungai. Tanah yang subur dan berakar kuat mampu menahan longsor. Ketika sistem ini berjalan dengan baik, bencana bisa diminimalkan. Hujan tetap turun, tetapi banjir tidak terjadi. Angin bertiup kencang, tetapi tidak menumbangkan banyak rumah. Gunung berapi meletus, tetapi dampaknya bisa dikendalikan.

Masalah muncul ketika keseimbangan alam tersebut dirusak. Ketika hutan ditebang, sungai dipersempit, tanah ditutup beton, dan lingkungan dipaksa menyesuaikan dengan kepentingan manusia tanpa perhitungan jangka panjang.

Perusakan Lingkungan: Faktor Manusia yang Sering Diabaikan

Banyak bencana yang terjadi hari ini tidak bisa dilepaskan dari aktivitas manusia. Berikut beberapa bentuk perusakan lingkungan yang berkontribusi besar terhadap meningkatnya risiko bencana.

  1. Deforestasi dan Hilangnya Hutan

Ketika hutan ditebang secara besar-besaran untuk perkebunan, pertambangan, atau pemukiman, fungsi ini hilang. Akibatnya: Air hujan langsung mengalir ke permukaan tanah, Sungai cepat meluap, Lereng menjadi rawan longsor,Daerah hilir menjadi langganan banjir. Ironisnya, pembukaan hutan sering dianggap sebagai simbol pembangunan. Padahal, tanpa perencanaan lingkungan yang matang, pembangunan justru menciptakan kerentanan baru.

  1. Alih Fungsi Lahan yang Tidak Terkendali

Lahan yang seharusnya menjadi daerah resapan air berubah menjadi beton dan aspal. Ketika hujan turun: Air tidak punya tempat untuk meresap, Saluran air tidak mampu menampung debit, Genangan cepat berubah menjadi banjir. Banyak kota besar dan kecil mengalami masalah yang sama: pembangunan lebih cepat daripada perencanaan lingkungan.

  1. Penambangan yang Merusak Struktur Alam

Penggalian tanah, peledakan, dan pembuangan limbah tambang dapat mengubah kontur alam secara drastis. Dampaknya : Tanah menjadi rapuh, Sungai tercemar lumpur dan logam berat, Lereng menjadi tidak stabil, Risiko longsor dan banjir meningkat. Sayangnya, pengawasan terhadap aktivitas tambang masih sering lemah. Keuntungan ekonomi jangka pendek lebih diutamakan dibandingkan keselamatan lingkungan dan masyarakat.

  1. Sampah dan Krisis Pengelolaan Lingkungan

Sampah sering dianggap masalah kecil, padahal dampaknya besar. Sungai yang dipenuhi sampah kehilangan kapasitas alirnya. Kebiasaan membuang sampah sembarangan menunjukkan bahwa masalah lingkungan bukan hanya soal kebijakan, tetapi juga soal perilaku masyarakat. Tanpa perubahan sikap, bencana akan terus berulang.

Perubahan Iklim: Faktor Global yang Memperparah Dampak

Selain perusakan lingkungan lokal, perubahan iklim global juga memperburuk kondisi. Suhu bumi yang meningkat menyebabkan: Curah hujan lebih ekstrem, Musim tidak menentu, Gelombang panas lebih panjang, Kekeringan dan banjir datang silih berganti. Namun penting untuk dicatat: perubahan iklim memang meningkatkan risiko, tetapi dampaknya menjadi jauh lebih parah ketika lingkungan lokal sudah rusak.

Narasi yang Keliru: Alam Selalu Disalahkan

Dalam banyak pemberitaan, bencana sering disebut sebagai “musibah alam” tanpa penjelasan lebih lanjut. Narasi ini secara tidak sadar membebaskan manusia dari tanggung jawab. Padahal: Banjir bukan hanya karena hujan, Longsor bukan hanya karena tanah, Kebakaran hutan bukan hanya karena kemarau. Di balik setiap bencana, hampir selalu ada faktor manusia yang memperbesar dampaknya. Dengan terus menyalahkan alam, kita kehilangan kesempatan untuk belajar dan memperbaiki kesalahan.

Dampak Sosial dan Kemanusiaan dari Bencana

Bencana tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga kehidupan manusia: Rumah hancur, Mata pencaharian hilang, Anak-anak putus sekolah. Trauma psikologis berkepanjangan, kelompok paling rentan masyarakat miskin, lansia, perempuan, dan anak-anak sering menjadi korban paling berat. Bencana memperlebar kesenjangan sosial dan menambah daftar masalah kemanusiaan.

Pemerintah, Kebijakan, dan Tanggung Jawab Publik

Pemerintah memiliki peran besar dalam mencegah dan mengurangi risiko bencana. Tata ruang, perizinan, pengawasan lingkungan, dan penegakan hukum adalah kunci utama. Namun tantangannya adalah: Lemahnya pengawasan, Tumpang tindih kebijakan, Kepentingan ekonomi jangka pendek, Kurangnya partisipasi masyarakat. Tanpa keberanian untuk menegakkan aturan lingkungan, pembangunan justru menjadi bumerang.

Peran Masyarakat: Dari Korban Menjadi Penjaga Lingkungan

Masyarakat tidak bisa hanya menjadi korban pasif. Setiap individu memiliki peran: Menjaga kebersihan lingkungan, Tidak membuang sampah sembarangan, Menolak perusakan lingkungan di sekitar tempat tinggal, Terlibat dalam gerakan konservasi. Kesadaran kolektif adalah kunci. Lingkungan yang dijaga bersama akan lebih kuat menghadapi ancaman bencana.

Membangun Perspektif Baru: Hidup Berdampingan dengan Alam

Alam bukan objek yang bisa dieksploitasi tanpa batas, tetapi mitra hidup yang harus dijaga keseimbangannya. Pembangunan tidak harus merusak. Kemajuan ekonomi bisa berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan jika direncanakan dengan bijak dan berkelanjutan.

Penutup: Bencana sebagai Cermin Diri

Bencana adalah cermin. Ia menunjukkan bagaimana manusia memperlakukan lingkungannya. Ketika bencana datang semakin sering dan semakin besar, itu adalah tanda bahwa ada yang salah dalam hubungan kita dengan alam. Menyalahkan alam tidak akan menyelesaikan masalah.

Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mengakui peran manusia dalam menciptakan kerentanan, serta komitmen untuk berubah. Jika lingkungan dijaga, risiko bencana bisa dikurangi. Jika keseimbangan alam dihormati, kehidupan manusia akan lebih aman dan berkelanjutan. Karena pada akhirnya, alam tidak pernah berniat menghancurkan manusia. Manusialah yang sering lupa bagaimana cara hidup selaras dengan alam.

Penulis merupakan Mahasiswa Magister Komunikasi Korporat, Universitas Paramadina.

Berkomentarlah secara bijaksana dan hindari menyinggung SARA. Komentar sepenuhnya menjadi tanggungjawab komentator.