Oleh: Shawna Meila Aulia | Akhir-akhir ini, media sosial terutama TikTok, dipenuhi oleh konten yang membicarakan perselingkuhan, konflik dalam rumah tangga, hingga perceraian. Konten-konten itu sering kali disajikan dengan cara yang dramatis dan emosional sehingga mudah mendapatkan perhatian pengguna.
Dari sinilah berkembang narasi umum “marriage is scary”, yang merujuk pada anggapan bahwa pernikahan adalah hal yang menyeramkan dan berisiko tinggi (Shafa et al., 2025). Narasi ini semakin menguat karena banyak pengguna TikTok yang berbagi pengalaman negatif mereka dalam pernikahan, sehingga pernikahan lebih sering dilihat sebagai penyebab masalah ketimbang kebahagiaan.
Salah satu isu yang banyak diperbincangkan adalah dugaan hubungan gelap yang melibatkan pasangan selebgram Jule dan Na Daehoon. Kasus ini viral setelah tersebarnya cuplikan foto dan video yang diduga menjadi bukti perselingkuhan. Reaksi netizen didominasi oleh komentar negatif dan penilaian.
Kehidupan pribadi pasangan itu segera menjadi sorotan publik. Untuk Generasi Z yang menyaksikan peristiwa ini, kejadian tersebut tidak hanya dianggap sebagai persoalan pribadi, tetapi juga dipandang sebagai cerminan bahwa pernikahan sangat mudah mengalami konflik dan pengkhianatan (Rahmawati, 2025).
Ketakutan Generasi Z terhadap pernikahan sebenarnya tidak hanya dipengaruhi oleh kasus perselingkuhan saja. Banyak Gen Z merasa khawatir akan ketidaksetaraan peran dalam rumah tangga, tekanan ekonomi, ketergantungan finansial, serta kehilangan kebebasan pribadi setelah menikah.
Konten TikTok yang menampilkan pasangan mengalami hubungan tidak sehat atau pernikahan yang penuh tekanan semakin memperkuat anggapan bahwa menikah justru membawa lebih banyak beban dibandingkan keuntungan.
Peran TikTok sebagai platform berbasis algoritma memperparah kondisi ini. Konten yang bersifat sensasional, seperti perselingkuhan dan konflik rumah tangga, memiliki peluang lebih besar untuk muncul di halaman For You Page (FYP).
Akibatnya, pengguna terutama Generasi Z sering terpapar konten tersebut secara berulang. Ketika durasi penggunaan TikTok mencapai lebih dari empat jam per hari, paparan ini menjadi semakin intens dan berpotensi membentuk persepsi bahwa perselingkuhan adalah hal yang wajar dalam pernikahan (Taufiqurrahman, 2025).
Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui Teori Kultivasi yang dikemukakan oleh George Gerbner. Teori ini menjelaskan bahwa paparan media dalam jangka panjang dapat memengaruhi cara individu memandang realitas sosial.
Gerbner menyebut bahwa dampak kultivasi paling kuat terjadi pada heavy viewers, yaitu individu yang mengonsumsi media lebih dari empat jam per hari, karena mereka cenderung menyamakan realitas media dengan realitas kehidupan nyata (Gerbner et al., 2002).
Dalam konteks TikTok, Generasi Z yang terus-menerus mengonsumsi konten perselingkuhan berisiko memandang konflik dan pengkhianatan sebagai sesuatu yang umum dalam pernikahan (Nazla Aulia et al., 2025).
Meski demikian, perlu dicatat bahwa media sosial bukan satu-satunya faktor yang membentuk ketakutan Gen Z terhadap pernikahan. Teori kultivasi sendiri tidak menyatakan bahwa media sepenuhnya menciptakan realitas baru, melainkan memperkuat persepsi yang sudah ada.
Artinya, ketakutan ini juga dipengaruhi oleh faktor lain, seperti meningkatnya angka perceraian, kondisi ekonomi yang tidak stabil, serta perubahan nilai dan pandangan tentang hubungan di kalangan generasi muda.
Beberapa penelitian mendukung adanya pengaruh TikTok terhadap persepsi pernikahan. Shafa et al. (2025) menemukan bahwa tren “marriage is scary” di TikTok berpengaruh terhadap terbentuknya pandangan negatif Generasi Z terhadap pernikahan.
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa makna pernikahan bagi Generasi Z mengalami pergeseran, dari yang sebelumnya dianggap sebagai tujuan hidup, menjadi pilihan yang penuh pertimbangan dan risiko (Krismono & Oktaviani, 2025). Namun, temuan ini tetap perlu dipahami secara hati-hati karena belum sepenuhnya membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung.
Oleh karena itu, literasi media menjadi hal yang penting. Literasi media tidak hanya berarti mampu membedakan informasi yang benar dan salah, tetapi juga memahami bagaimana algoritma media sosial bekerja dan menyadari bahwa konten viral biasanya hanya menampilkan kasus yang bersifat ekstrem.
Dengan literasi media yang baik, Generasi Z diharapkan bisa menyikapi konten TikTok secara lebih kritis dan tidak menjadikannya satu-satunya dasar dalam memandang pernikahan dan masa depan hubungan mereka.
Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro.














