Harga Emas Nyaris Tak Bergerak, Pelaku Pasar Masih Wait And See

Harga emas kembali menyentuh angka Rp 1 juta per gramnya. (Foto: Ist)

MEDAN, KabarMedan.com | Kinerja IHSG yang sempat menguat selama dua hari beruntun, ditutup turun. IHSG melemah 0.62% di level 7.104,21. Sementara itu kinerja mata uang rupiah terpantau masih belum beranjak jauh dan berbeda di kisaran 14.365 per US Dolar.

Sejauh ini fokus perhatian pasar mulai tertuju kepada kebijakan yang akan diambil oleh Bank Sentral AS ke depan.

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara (Sumut), Gunawan Benjamin mengatakan pelaku pasar melihat ada potensi kenaikan bunga acuan yang agresif dalam waktu dekat. Meskipun semuanya masih dalam bentuk perkiraan.

Namun, tingginya laju tekanan inflasi di AS kemungkinan kenaikan bunga acuan secara agresif besar kemungkinan akan terjadi.

Baca Juga:  Jadwal Seleksi KI Sumut 2026–2030 Disesuaikan, Tahapan Berubah Tanpa Ubah Substansi

“Meskipun di sisi lainnya, saya menilai The FED atau Bank Sentral AS bisa saja menunda kenaikan bunga acuan karena masih terjadinya perang yang belum berkesudahan,” ujarnya, Kamis (7/4/2022).

Menjelang akhir pekan ini, pelaku pasar keuangan akan fokus pada Bank Sentral AS yang akan memberikan gambaran ekonomi.

Sejauh ini, menurut Gunawan, ekspektasinya adalah kemungkinan bunga secara agresif yang bisa menekan kinerja bursa global. Meski demikian, hal tersebut belum sepenuhnya berdampak buruk bagi kinerja IHSG.

Terkait dengan ekspektasi kenaikan bunga acuan di AS, harga emas dunia juga masih bergerak sideways.

Sejauh ini harga emas ditransaksikan di kisaran $1.929 per ons troynya. Dengan kinerja mata uang rupiah saat ini. Maka harga emas dunia memiliki harga keekonomian di kisaran Rp893 ribu per gram. Sementara kalau beli di butuk harganya di bawah Rp1 juta per gram.

Baca Juga:  Pegadaian Gelar Kuliah Umum dan Literasi Keuangan di Universitas Satya Terra Bhineka

“Investor emas juga sejauh ini masih wait and see. Menanti perkembangan The FED hingga update kabar perang Rusia-Ukraina terkini. Baik potensi penguatan maupun penurunan harga emas sejauh ini sama kuatnya. Pengaruh perang yang berpotensi mendorong penguatan harga emas, masih sama kuatnya dengan pengaruh kebijakan The FED yang menekan harga emas,” tandasnya. [KM-07]