Kebijakan DMO/DPO Dijalankan, Ekspor Sumut Dinilai akan Terancam

Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin. (Foto: Ist)

MEDAN, KabarMedan.com | Januari 2022 ini, Sumatera Utara (Sumut) dinilai masih berpeluang mencetak kenaikan ekspor dibandingkan Desember 2021. Namun, ancaman dinilai akan muncul dari kebijakan DMO/DPO yang diterapkan pemerintah.

Walaupun, belum bisa dipastikan bagaimana implementasi kebijakan DMO/DMO di lapangan beserta dampaknya.

“Namun, diharapkan realisasi ekspor di Februari ini masih mampu dipertahankan. Mengingat Sumut sangat bergantung pada tanaman sawit beserta produk olahannya,” ujar Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, Rabu (9/2/2022).

Ia mengatakan nilai ekspor Sumut di bulan Desember mengalami kenaikan sebesar 14,96 persen dibandingkan November 2021.

Sementara jika dibandingkan year on year nya, kenaikan ekspor Sumut itu mengalami lonjakan sebesar 51,58 persen.

Memasuki tahun kedua pandemi (2021), kenaikan ekspor Sumut tidak terlepas dari kenaikan harga CPO hingga 100 persen lebih.

Baca Juga:  Kolaborasi Lintas Pihak Dorong Penyusunan Tata Kelola Wilayah Adat di Tapanuli Utara

“Jadi di tahun 2021 kemarin, Sumut mendapatkan berkah dari kenaikan harga minyak sawit dunia atau CPO. Kenaikan ekspor ini tentunya membuat Sumut mendapatkan pemasukkan yang tinggi dari sisi ekspor. Lihat saja angka realisasi devisa yang masuk ke Sumut selama Januari hingga Desember 2021, angkanya mencapai 6,6 miliar US Dollar, jauh lebih tinggi dari tahun 2020 yang sebesar 4,1 miliar US Dolar,” jelasnya.

Adanya pemasukan 2 miliar US Dolar lebih selama 2021 dibandingkan 2020, menurut Gunawan Benjamin merupakan kenaikan yang fantastis. Sejauh ini, harga CPO sendiri masih di kisaran 5.400-an tinggit per ton.

Sementara untuk kinerja impor Desember 2021 dibandingkan bulan sebelumnya, mengalami penurunan sebesar 15,63 persen.

Penurunan tersebut menurutnya tidak perlu dikhawatirkan lebih jauh. Diperkirakan, aktifitas impor mengalami penurunan karena banyaknya waktu libur selama Desember 2021.

Baca Juga:  Timsel KI Sumut Mulai Verifikasi 112 Berkas Calon Anggota

Tetapi, indikasi yang paling bisa dibandingkan adalah kinerja impor Desember 2021 dengan impor Desember 2020.

Dimana angkanya mengalami kenaikan sebesar 17,25%. “Angka tersebut bisa dijadikan indikasi mulai pulihnya ekonomi Sumut. Mengingat komposisi impor Sumut dari barang modal dan bahan baku/penolong ini jauh lebih besar dari barang konsumsi. Yang bisa diterjemahkan bahwa ekonomi Sumut masih membutuhkan sokongan barang modal dan penolong dari negara lain sebagai motor penggerak ekonomi,” paparnya.

Menurut Gunawan Benjamin yang terpenting ke depan adalah bagaimana Sumut harus bisa membuat neraca dagang surplus, karena itu bisa menjadi indikasi Sumut untung berdagang dengan negara lain. [KM-07]