Ketika Bencana Menjadi Konten Viral: Refleksi Teori Agenda Setting dalam Pemberitaan Bencana Aceh

Oleh: Anindya Nururita | Beberapa waktu terakhir ini, media sosial kita dibanjiri dengan berbagai konten tentang bencana yang melanda Aceh. Dari video dramatis tentang banjir bandang, foto-foto kerusakan infrastruktur, hingga narasi-narasi yang menyayat hati tentang korban bencana.

Namun, di balik hiruk-pikuk pemberitaan ini, muncul pertanyaan penting: apakah media benar-benar membantu korban, atau justru menjadikan tragedi sebagai komoditas untuk meraih views dan engagement? Fenomena ini menarik untuk dikaji melalui kacamata Teori Agenda Setting yang dikemukakan oleh Maxwell McCombs dan Donald Shaw.

Teori Agenda Setting pada dasarnya menjelaskan bagaimana media massa memiliki kekuatan untuk mempengaruhi apa yang dianggap penting oleh publik. Media tidak hanya memberitakan peristiwa, tetapi juga menentukan peristiwa mana yang layak mendapat perhatian lebih dan bagaimana cara publik memandang peristiwa tersebut. Dalam konteks bencana Aceh, kita bisa melihat dengan jelas bagaimana media baik media mainstream maupun media sosial telah membentuk persepsi publik tentang bencana ini.

Yang menjadi perhatian adalah bagaimana media memberitakan bencana dengan cara yang cenderung sensasional. Headline-headline yang bombastis, video yang menampilkan momen- momen paling dramatis, dan narasi yang berlebihan seolah berlomba untuk menarik perhatian audiens.

Media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Twitter dipenuhi dengan konten bencana yang dikemas dengan editing dramatis, musik sedih, dan caption yang mengundang simpati. Beberapa content creator bahkan terlihat mengeksploitasi situasi ini untuk meningkatkan jumlah followers dan engagement mereka.

Teori Agenda Setting menunjukkan bahwa media tidak hanya memberitahu kita apa yang harus dipikirkan tetapi juga bagaimana kita harus memikirkannya. Dalam kasus bencana Aceh, agenda yang dibangun media cenderung fokus pada aspek-aspek yang viral dan emosional, bukan pada informasi substantif yang dibutuhkan korban atau masyarakat.

Misalnya, lebih banyak konten yang menampilkan tangisan korban atau kehancuran dramatis, dibandingkan informasi tentang lokasi pengungsian, kebutuhan logistik, atau cara menyalurkan bantuan yang efektif.

Fenomena ini mencerminkan apa yang disebut sebagai disaster pornography atau pornografi bencana, di mana penderitaan orang lain dijadikan tontonan untuk konsumsi publik. Media dan content creator berlomba-lomba menghadirkan konten yang paling dramatis, paling menyedihkan, dan paling viral, tanpa mempertimbangkan dampak psikologis bagi korban yang diabadikan maupun martabat mereka sebagai manusia. Korban bencana seolah kehilangan privasi dan hak untuk berduka dengan tenang, karena setiap detik penderitaan mereka didokumentasikan dan disebarluaskan.

Dari perspektif Agenda Setting, media sebenarnya memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk respons publik terhadap bencana. Jika media fokus pada konten sensasional, publik akan terjebak dalam siklus konsumsi konten yang menghibur secara emosional namun tidak produktif.

Sebaliknya, jika media mengangkat isu-isu penting seperti kesiapsiagaan bencana, kelemahan infrastruktur, atau koordinasi penanganan bencana, publik akan terdorong untuk berpikir lebih kritis dan konstruktif tentang solusi jangka panjang.

Yang lebih memprihatinkan adalah munculnya konten-konten yang tidak terverifikasi atau bahkan hoaks di tengah kepanikan bencana. Teori Agenda Setting mengingatkan kita bahwa media memiliki kemampuan untuk membentuk realitas sosial melalui seleksi dan penekanan informasi tertentu. Ketika media atau individu menyebarkan informasi yang tidak akurat, publik bisa salah mengartikan situasi, yang pada akhirnya menghambat upaya penanganan bencana yang efektif.

Sebagai mahasiswa komunikasi dan bagian dari masyarakat digital, kita perlu lebih kritis dalam mengonsumsi dan memproduksi konten tentang bencana. Pertama, kita harus mempertanyakan motif di balik setiap konten yang kita lihat: apakah benar-benar untuk membantu, atau hanya untuk viral?

Kedua, kita perlu lebih selektif dalam membagikan konten, memastikan bahwa informasi yang kita sebarkan akurat dan bermanfaat. Ketiga, sebagai konsumen media, kita harus memberikan apresiasi lebih kepada konten yang edukatif dan solutif, bukan hanya yang emosional dan sensasional.

Media massa dan platform media sosial juga perlu melakukan evaluasi diri. Algoritma yang memprioritaskan konten dengan engagement tinggi secara tidak langsung mendorong produksi konten sensasional.

Platform perlu mempertimbangkan untuk memberikan ruang lebih bagi konten-konten yang konstruktif dan edukatif, terutama dalam konteks bencana. Media mainstream juga harus kembali pada prinsip jurnalisme yang etis: memberitakan dengan akurat, berimbang, dan menghormati martabat korban.

Bencana Aceh seharusnya menjadi momentum bagi kita semua untuk berefleksi tentang peran media dalam masyarakat. Teori Agenda Setting mengajarkan bahwa media memiliki kekuatan luar biasa dalam membentuk persepsi dan prioritas publik.

Kekuatan ini harus digunakan secara bertanggung jawab, bukan untuk mengejar keuntungan semata. Ketika bencana terjadi, yang dibutuhkan adalah solidaritas, informasi yang akurat, dan tindakan nyata bukan konten viral yang eksploitatif.

Sudah saatnya kita mengubah cara kita memperlakukan bencana dalam ruang digital. Bencana bukan konten untuk hiburan atau alat untuk meraih popularitas. Di balik setiap video dramatis dan foto menyedihkan, ada manusia sungguhan yang sedang berjuang untuk bertahan hidup dan memulihkan kehidupan mereka.

Mari kita gunakan media dan platform kita untuk hal-hal yang benar-benar bermakna: menyebarkan informasi yang berguna, menggalang bantuan yang tepat sasaran, dan membangun kesadaran tentang pentingnya mitigasi bencana. Hanya dengan begitu, media bisa menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah.

Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro.

Berkomentarlah secara bijaksana dan hindari menyinggung SARA. Komentar sepenuhnya menjadi tanggungjawab komentator.