Oleh: Dadan Firdaus | Ungkapan kita menjaga alam, alam menjaga kita bukan sebuah ungkapan pepesan kosong, melainkan merupakan tanda yang harus dimaknai. Alam harus dijaga dan dilestarikan, bukan dirusak atau dieksploitasi untuk kepentingan sesaat. Kondisi alam yang rusak membuatnya rentan bencana dan tidak bisa menjaga kehidupan manusia di sekitarnya.
Hutan dan gunung yang semula sebagai tempat bermainnya air hujan yang menyerap ke sendi-sendi hutan dan gunung serta mengalir ke sungai secara teratur, mengikat tanah agar tidak mudah terurai, menjadi sumber kehidupan bagi hewan dan manusia di sekitarnya, kini berangsur pudar.
Kerap kali demi kepentingan ekonomi jangka pendek dan untuk segelintir kelompok, alam dikorbankan, pohon penjaganya ditebang habis, tanahnya ditambang, hewan liarnya diburu, dialih fungsi menjadi perkebunan mono kultur, dan dijadikan pemukiman/Resort. Masyarakat di sekitar hutan menjadi tidak berdaya mengikuti arus ekonomi yang serakah, kalau tidak mereka tersingkir.
Jika alam rusak ditambah dengan anomali cuaca, alam menjadi rentan menimbulkan bencana, seperti banjir dan longsor pada musim hujan, kekeringan air pada musim kemarau, kekurangan pakan untuk hewan liar yang akhirnya merambah ke pemukiman warga. Korban pertama yang terdampak dari bencana alam ini tentunya hewan liar dan masyarakat di sekitar hutan yang selama ini menggantungkan kehidupannya kepada hutan dan gunung.
Bencana alam yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada akhir November 2025 hingga sekarang diawali dengan adanya fenomena siklon tropis senyar di sekitar Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat yang menyebabkan terjadinya hujan ekstrem antara tanggal 25-27 November 2025 dengan intensitas air hujan sekitar 300 mm per hari, bahkan paling tinggi mendapatkan curah hujan di Kabupaten Bireuen sekitar 411 mm per hari, seolah-olah air hujan satu bulan langsung tumpah dalam tanggal tersebut (Chaterine & Prabowo, 2025).
Tingginya intensitas hujan yang merata di 3 provinsi tersebut, membuat hutan, gunung, dan sungai tidak bisa menampung dan menyimpan air hujan (spons alami), akhirnya meluap menjadi banjir bandang yang dengan cepat mengalir ke arah hilir. Ditambah lagi kondisi hutan dan gunung serta sungai yang rapuh, yang diakibatkan oleh adanya deforestasi dan alih fungsi lahan menjadi perkebunan, pertanian lahan kering, dan hutan tanaman semakin memperburuk kondisi (Arlinta, 2025). Di mana air hujan menjadi gemuruh ombak yang besar menyapu bersih gelondongan pohon yang ditebang, longsor, menenggelamkan rumah-rumah, memutus jembatan, dan menutup jalaan dengan tanah longsoran.
Berdasarkan catatan data kompilasi BPS Aceh dan lembaga lingkungan menunjukkan provinsi ini kehilangan lebih dari 700.000 hektare hutan dalam kurun 1990–2020, sementara tutupan hutan di Sumatra Utara hanya tersisa sekitar 29%, dengan ekosistem Batang Toru yang terus terdegradasi oleh tambang dan perkebunan, dan di Sumatra Barat telah kehilangan hutan primer dan sekunder yang signifikan, mencapai 32.000 hektare pada tahun 2024 saja (Diahwahyuningtyas & Indriawati, 2025).
Gambaran dampak dari bencana alam ini yang disiarkan di TV nasional, media massa mainstream, media berita online, dan sosial media sungguh sangat mengejutkan dan menyayat hati, sungguh warga yang tidak bersalah ikut menjadi korban dari keganasan bencana alam yang terjadi, 3 provinsi lumpuh, para kepala daerah sebagian mulai menyerah menghadapi bencana, keputusasaan mulai menyebar, kepanikan atas kelangkaan sumber daya menimbulkan penjarahan di berbagai tempat bencana.
Gambaran dampak berupa alam yang rusak, fasilitas dan infrastruktur yang hancur, banyaknya korban, dan kerugian ekonomi yang sangat tinggi. Seolah alam sedang berkomunikasi non verbal kepada kita semua dengan memberikan tanda (sign) berupa penanda (signifie) dan petanda (signified) untuk dipahami dan dilakukan perbaikan. Menurut Roland Barthes yang dipengaruhi oleh Swiss Ferdinand de Saussure bahwa tanda merupakan gabungan yang tidak terpisahkan antara penanda dan petanda, penanda menunjukkan bentuk fisik yang dapat dipersepsikan melalui indera, sedangkan petanda merupakan makna dan konsep yang dikaitkan dengan petanda tersebut.
Dari bencana alam ini, sebuah penanda dari alam berupa banjir dan longsor yang menjadi gelombang menghanyutkan tanah dan pohon gelondongan, menenggelamkan rumah, menghancurkan jembatan, dan merusak jalan menghentak kesadaran kita membangun sebuah makna sebagai petanda bahwa alam telah rusak oleh kerakusan manusia demi kepentingan ekonomi jangka pendek.
Kejadian bencana alam tersebut sepatutnya menjadi alarm bagi kita semua, bahwa pembangunan ekonomi yang mengindahkan lingkungan dan masyarakatnya akan memberikan dampak yang jauh lebih mahal dibanding keuntungan yang didapat.
Dalam konteks Bencana Sumatra memberikan dampak kerusakan yang sangat besar, berdasarkan catatan media korban Bencana Sumatra sudah mencapai 867 Orang Meninggal, 521 Hilang, 849.193 Mengungsi hingga tanggal 5 Desember 2025 (Supriatin, 2025) dan ditaksir mengalami kerugian ekonomi sebesar 68,67 Triliun (Ni’am & Ika, 2025).
Bencana alam di Sumatra bukan sekedar sebuah peristiwa alam, tetapi sebuah dampak dari aktivitas ekonomi serakah manusia atas nama keuntungan dan untuk menutupi kebutuhan jangka pendek tanpa mengindahkan kebutuhan jangka panjang bagi generasi selanjutnya.
Dewasa ini pembangunan ekonomi tidak bisa lagi dihadapkan (vis-a-vis) dengan kelestarian lingkungan, melainkan harus dibangun secara harmonis, sebagaimana gagasan system value yang digagas oleh Jhon Elkington dalam bukunya Green Swans, bahwa menyeimbangkan triple bottom line (planet, people, dan profit) saja tidak cukup dalam penyelesaian masalah mendasar, dan terkadang dijadikan alat untuk akuntansi semata.
System value mendorong berbagai pihak lintas sektor untuk bergandengan tangan dalam menyelesaikan masalah mendasar seperti perubahan iklim melalui pengurangan dampak buruk menuju perbaikan aktif dan regeneratif yang bertanggung jawab pada lingkungan dan masyarakat, memperkuat kemampuan masyarakat dalam bertahan sehingga bisa pulih lebih cepat, dan memastikan perbaikan sistem secara regeneratif untuk memastikan keberlanjutan sampai generasi mendatang dapat menikmati alam yang lestari.
Sumber daya alam saat ini bukan hanya milik generasi sekarang, melainkan miliki generasi mendatang, apa yang kita dapat dari alam hari ini merupakan warisan dari generasi sebelum kita yang secara bijak memanfaatkan dan menjaga alam, seyogyanya generasi kita sekarang bisa lebih bijak memanfaatkan dan menjaga alam agar memastikan generasi mendatang bisa memanfaatkan dan menjaga alam.
Penulis adalah mahasiswa S2 Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina.
Referensi:
Arlinta, D. (2025, Desember 3). Deforestasi dan Bencana, Masyarakat Sumatera yang Tanggung Beban. Diambil kembali dari Kompas.id: https://www.kompas.id/artikel/deforestasi-dan-bencana-masyarakat-sumatera-yang-tanggung-beban?open_from=Tagar_Page
Chaterine, R. N., & Prabowo, D. (2025, Desembr 1). BMKG Ungkap Penyebab Banjir Sumatera: Curah Hujan Bulanan Tumpah dalam Satu Hari. Diambil kembali dari Kompas.com: https://nasional.kompas.com/read/2025/12/01/15570891/bmkg-ungkap-penyebab-banjir-sumatera-curah-hujan-bulanan-tumpah-dalam-satu
Diahwahyuningtyas, A., & Indriawati, T. (2025, Desember 2). Pakar UGM: Banjir Bandang Sumatera akibat Kerusakan Ekosistem Hutan di Hulu DAS. Diambil kembali dari Kompas.com: https://www.kompas.com/tren/read/2025/12/02/083000665/pakar-ugm-banjir-bandang-sumatera-akibat-kerusakan-ekosistem-hutan-di-hulu?page=all#page2
Ni’am, S., & Ika, A. (2025, Desember 5). Kerugian Ekonomi Bencana Sumatera Ditaksir Mencapai Rp 68,67 Triliun. Diambil kembali dari Kompas.com: https://money.kompas.com/read/2025/12/05/100000726/kerugian-ekonomi-bencana-sumatera-ditaksir-mencapai-rp-68-67-triliun
Supriatin. (2025, Desember 5). Data Terbaru Korban Bencana di Sumatera: 867 Orang Meninggal, 521 Hilang, 849.193 Mengungsi. Diambil kembali dari Liputan6: https://www.liputan6.com/news/read/6229913/data-terbaru-korban-bencana-di-sumatera-867-orang-meninggal-521-hilang-849193-mengungsi?page=2














