MEDAN, KabarMedan.com | Sebagian masyarakat dunia saat ini pasti mulai mulai sadar dengan perubahan iklim yang terjadi belakangan ini. Perubahan iklim diantaranya menyebabkan perubahan cuaca secara ekstrim, suhu bumi yang semakin naik, mencairnya sebagian es di kutub, bencana alam dan masih banyak yang lainnya.
Untuk mengurangi dampak dari perubahan iklim yang ada, sebagian besar masyarakat internasional serta lembaga-lembaga peduli lingkungan mulai melancarkan aksi kampanye, untuk mengajak seluruh lapisan masyarakat agar mulai peduli terhadap kelestarian lingkungan.
“Ada banyak kegiatan, aksi serta gerakan yang dibuat agar masyarakat internasional mulai sadar bahwa lingkungan di sekitarnya perlu dijaga dan dilestarikan,” kata Dr. Martono Anggusti, Wakil Ketua Umum Kadin Sumatera Utara, baru -baru ini.
Martono mengatakan, sejak tahun 1988 istilah pembangunan berkelanjutan yang mengartikan “memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan” telah menyebar di seluruh dunia. Namun Masalah lingkungan hidup belum juga menjadi kesadaran publik.
Hal ini dibuktikan dengan berbagai masalah lingkungan hidup yang belum teratasi dan bahkan semakin memburuk. Perubahan pada lingkungan hidup/alam, baik secara perlahan maupun secara ekstrim berdampak pada bencana alam, dan hal tersebut tidak terlepas dari adanya faktor campur tangan manusia.
“Masalah sampah yang menjadi salah satu permasalahan yang dialami oleh berbagai negara di dunia. Data Bank Dunia mencatat beberapa kota di dunia menghasilkan sampah hingga 1,3 milliar ton per tahun. Diperkirakan jumlah ini akan bertambah hingga 2,2 miliar ton per tahun,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyebutkan, Indonesia merupakan penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia yang dibuang ke laut.
Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, sampah plastik di Indonesia menunjukkan angka 64 juta ton/tahun dimana sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut, kantong plastik yang terbuang ke lingkungan sebanyak 10 milar lembar per tahun atau sebanyak 85.000 ton kantong plastik.
Sementara itu, pencemaran mikroplastik tertinggi terdapat pada garam laut. Setidaknya 180 spesies hewan laut telah didokumentasikan mengkonsumsi plastik, dari plankton kecil hingga paus raksasa. Plastik juga telah ditemukan di dalam makanan favorit lainnya seperti kerang dan lobster.
“Sudah saatnya kita sadar dan melakukan sesuatu bahwa untuk “memenuhi kebutuhan sekarang tanpa harus mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan. Istilah REUSE dan REFUSE merupakan solusi terampuh. Mulailah kita memakai bahan yang ramah lingkungan,” ungkapnya.
Masing-masing negara memiliki jumlah sampah yang berbeda dengan berbagai latar belakang penduduk dan kondisi negaranya. Julukan sebagai negara nomor dua penghasil sampah plastik di dunia, sudah melekat dalam beberapa tahun ini kepada Indonesia. Julukan yang mulanya diberikan peneliti dari Universitas Georgia, Amerika Serikat, Jenna Jambeck, kini mulai diikuti oleh negara lain dan juga di dalam negeri.
“Banyak kalangan yang menyebutkan bahwa produksi sampah di Indonesia hanya bisa dikalahkan oleh Tiongkok saja,”jelasnya.
Perubahan dimulai dari diri sendiri
Ia mengimbau masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya. Terutama sampah plastik, karena sifatnya yang sulit diurai, namun keberadaannya semakin meningkat setiap tahun. Membuang sampah sembarangan merupakan awal mula dari bencana.
Selain itu, membuang sampah sembarangan juga bisa berdampak buruk terhadap lingkungan serta menimbulkan berbagai macam penyakit. Biasakan diri anda mulai dari sekarang untuk membuang sampah di tempat yang telah disediakan dan biasakan juga untuk memilah sampah antara sampah plastik, kaleng dan kaca, serta sampah basah supaya sampah-sampah tersebut dapat diolah kembali. Kalau bukan dimulai dari diri kita sendiri, takkan mungkin orang lain akan mengikuti jejak kita.
“Setelah kita bisa merubah kebiasaan lama kita dan mulai peduli terhadap lingkungan, tentunya kita bisa mulai memberikan kontribusi kita secara nyata,” tambhanya.
Caranya sangatlah mudah. Kita bisa mulai mengajak orang-orang terdekat kita untuk melakukan kebiasaan peduli lingkungan yang sama dengan yang kita lakukan.
Kita juga bisa bergabung dengan aksi dari berbagai lembaga yang peduli lingkungan seperti misalnya WWF, Greenpeace, WALHI dan masih banyak yang lainnya.
“Kontribusi kita melalui lembaga-lembaga ini tidak mengharuskan kita untuk bergabung menjadi staf pekerja mereka, tetapi kita bisa memberikan kontribusi terhadap aksi mereka melalui donasi berupa uang ataupun keterlibatan kita dalam event-event kampanye yang mereka adakan,” pungkasnya. [KM-03]














