Ketika Identitas Digital Menjadi Panggung Sosial

Oleh: Cici Elysia Erlinda | Sebagai mahasiswa di era digital, media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Instagram, TikTok, dan platform lainnya tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi, tetapi juga menjadi ruang untuk menunjukkan siapa diri kita.

Mulai dari unggahan kegiatan kampus, pencapaian akademik, hingga aktivitas produktif di luar kelas, semuanya seolah perlu dibagikan. Tanpa disadari, media sosial berubah menjadi panggung sosial tempat identitas kita dipertontonkan. 

Fenomena ini mengingatkan pada teori dramaturgi Erving Goffman, yang memandang kehidupan sosial layaknya sebuah pertunjukan. Menurut Goffman, individu berperan sebagai aktor yang tampil di panggung depan (front stage) ketika berhadapan dengan publik, dan kembali ke panggung belakang (back stage) saat berada di ruang privat.

Dalam konteks media sosial, panggung depan ini terasa semakin dominan. Apa yang ditampilkan kepada publik sering kali sudah dipilih, diatur, bahkan diedit agar sesuai dengan citra yang ingin dibangun. 

Sebagai mahasiswa, tekanan ini cukup terasa. Saat melihat unggahan teman yang tampak aktif mengikuti lomba, magang, organisasi, atau sekadar menjalani hidup yang terlihat “on track”, muncul perasaan tertinggal.

Ada dorongan untuk ikut mengunggah sesuatu, bukan karena ingin berbagi, tetapi agar tidak dianggap pasif atau tidak produktif. Media sosial akhirnya menjadi ruang pembuktian, bukan lagi sekadar ekspresi diri. 

Di sinilah identitas digital mulai bersifat performatif. Kita menampilkan sisi diri yang dianggap layak dilihat, sementara kegagalan, kelelahan, dan kebingungan sering kali disembunyikan. Panggung belakang—tempat kita bisa jujur pada diri sendiri—jarang mendapat ruang di media sosial. Akibatnya, perbandingan sosial menjadi tidak seimbang karena yang dibandingkan hanyalah versi terbaik dari kehidupan orang lain. 

Kasus runtuhnya citra publik figur di media sosial juga memperlihatkan rapuhnya identitas yang dibangun secara performatif. Ketika realitas di balik layar terungkap, publik baru menyadari bahwa apa yang selama ini terlihat sempurna tidak sepenuhnya nyata. Hal ini menunjukkan bahwa identitas di media sosial sangat mungkin dikonstruksi dan dimanipulasi demi pengakuan sosial. 

Melalui perspektif dramaturgi, penting bagi mahasiswa untuk menyadari bahwa media sosial bukan cerminan utuh kehidupan seseorang. Apa yang muncul di linimasa hanyalah potongan kecil dari realitas. Kesadaran ini dapat membantu kita mengurangi tekanan untuk selalu tampil ideal dan lebih bijak dalam memaknai unggahan orang lain. 

Pada akhirnya, media sosial tetap bisa menjadi ruang yang positif jika digunakan secara reflektif. Mahasiswa tidak perlu menjadikan validasi digital sebagai ukuran nilai diri. Mengakui bahwa setiap orang memiliki panggung belakang yang tidak terlihat adalah langkah awal untuk membangun relasi yang lebih sehat dengan media sosial dan dengan diri sendiri. 

Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro.

Berkomentarlah secara bijaksana dan hindari menyinggung SARA. Komentar sepenuhnya menjadi tanggungjawab komentator.