Komunikasi Transparan Sherly Tjoanda: Praktik Kepemimpinan Humanis dalam Jejak Digital

Oleh: Indri Fatimatuzzahro | “Pencitraan adalah sesuatu yang tidak saya katakan, yang saya lakukan menginformasikan yang saya lakukan” Pernyataan tersebut disampaikan Sherly Tjoanda yang kerap disapa Sherly Laos saat menjawab pertanyaan Rosi dalam wawancara Kompas TV terkait pencitraan diri melalui konten digital.

Ungkapan ini mencerminkan cara pandang Sherly terhadap komunikasi publik, bahwa kepercayaan tidak dibangun melalui retorika semata, melainkan melalui tindakan nyata yang dikomunikasikan secara terbuka kepada masyarakat.

Dalam konteks kepemimpinan daerah saat ini, meningkatnya tuntutan publik terhadap transparansi dan kepekaan sosial menjadi faktor krusial dalam membangun legitimasi dan kepercayaan.

Masyarakat tidak lagi hanya menilai pemimpin dari kebijakan yang dihasilkan, tetapi juga dari bagaimana kebijakan tersebut dikomunikasikan, dijelaskan, dan dirasakan secara langsung oleh warga. Di sinilah komunikasi publik memainkan peran strategis sebagai jembatan antara pemerintah dan masyarakat.

Melalui media sosial, Sherly Tjoanda menampilkan proses kerja pemerintahan secara apa adanya. Ia membagikan kunjungan lapangan, dialog dengan warga, hingga penyaluran bantuan yang bersumber dari anggaran negara, lengkap dengan penjelasan alasan dan mekanisme kebijakan.

Pendekatan ini menciptakan persepsi kejujuran dan keterbukaan, sekaligus mengurangi jarak psikologis antara pemerintah dan masyarakat. Media sosial tidak digunakan sebagai alat propaganda, melainkan sebagai ruang dokumentasi dan pertanggungjawaban publik.

Tingginya apresiasi Generasi Z terhadap Sherly Tjoanda sebagaimana tercermin dalam Survei Nasional Muda Bicara ID menunjukkan bahwa gaya komunikasinya selaras dengan karakter komunikasi Gen Z. Generasi ini dikenal menyukai pemimpin yang humanis, responsif, komunikatif, dan tidak berjarak secara sosial (Hidayat & Nurrahmi, 2021). Transparansi dan kehadiran Sherly di ruang digital menjadi nilai penting yang memperkuat kedekatan emosional dengan generasi muda.

Kiprah Sherly Tjoanda sebagai Gubernur Maluku Utara bermula ketika ia maju dalam Pemilihan Gubernur 2024 menggantikan almarhum suaminya Beni Laos, dengan Sabrin Sehe sebagai wakilnya. Latar belakang personal tersebut turut membentuk narasi kepemimpinannya dengan empati dan keteguhan, sekaligus memperkuat legitimasi moral di mata publik.

Gaya Komunikasi Sherly Tjoanda

Teori komunikasi humanis menempatkan manusia sebagai subjek utama komunikasi, bukan sekadar objek penerima pesan. Carl Rogers, tokoh utama pendekatan humanistik, menekankan bahwa komunikasi yang efektif bertumpu pada empati, keaslian (genuineness), dan penerimaan tanpa syarat (unconditional positive regard). Dalam kerangka ini, keberhasilan komunikasi diukur dari sejauh mana pesan mampu membangun pemahaman, kedekatan emosional, dan rasa dihargai.

Praktik komunikasi Sherly Tjoanda merefleksikan prinsip tersebut. Melalui media sosial, ia tidak hanya menyampaikan hasil kebijakan, tetapi juga memperlihatkan proses kerja pemerintahan secara terbuka mulai dari kunjungan lapangan, dialog langsung dengan warga, hingga penyaluran bantuan yang bersumber dari anggaran negara. Pendekatan ini menunjukkan kejujuran komunikatif dan keberanian membuka ruang akuntabilitas publik.

Dalam perspektif komunikasi humanis, tindakan Sherly ini mencerminkan apa yang disebut Rogers sebagai authentic presence, yakni kehadiran pemimpin yang utuh dan tidak dibuat- buat. Media sosial dimanfaatkan bukan untuk membangun citra artifisial, melainkan sebagai ruang perjumpaan simbolik antara pemimpin dan masyarakat.

Sherly kerap menampilkan diri sebagai figur “ibu bagi 1,3 juta warga Maluku Utara” sebuah peran yang sarat nilai humanis. Hal ini tampak dari pilihan pakaian dinas yang sederhana, penggunaan bahasa lokal, serta gestur komunikasi yang hangat dan tidak hierarkis. Dalam teori komunikasi humanis, simbol-simbol ini berfungsi untuk meruntuhkan jarak kekuasaan dan menciptakan relasi yang lebih setara antara pemimpin dan rakyat.

Komunikasi Dua Arah

Komunikasi dua arah merupakan prinsip utama dalam komunikasi humanis. Paulo Freire menyebut komunikasi yang membebaskan sebagai dialog, bukan monolog. Dialog menuntut keterbukaan, kesediaan mendengar, dan pengakuan terhadap pengalaman hidup pihak lain.

Prinsip ini tampak jelas dalam cara Sherly Tjoanda berinteraksi dengan masyarakat. Ia tidak membatasi diri pada ruang birokrasi, tetapi aktif turun ke lapangan dan membuka ruang dialog, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Dalam sebuah podcast bersama Akbar Faizal, Sherly menegaskan preferensinya terhadap komunikasi yang lugas:

“Kalau menginginkan A, katakan A. Saya tidak mengerti kalimat muter dan bersayap.”

Pernyataan ini mencerminkan penolakan terhadap bahasa politik elitis dan menegaskan orientasi humanis dalam berkomunikasi. Kejelasan pesan menjadi bentuk penghormatan terhadap lawan bicara, sekaligus membuka ruang dialog yang setara.

Dari sudut pandang teori komunikasi interaksional, praktik Sherly menempatkan umpan balik masyarakat sebagai elemen kunci. Masyarakat tidak diposisikan sebagai penerima pasif, melainkan sebagai subjek yang turut membentuk arah komunikasi dan kebijakan publik.

Dengan demikian, komunikasi transparan Sherly Tjoanda dapat dipahami sebagai praktik nyata komunikasi humanis dalam kepemimpinan publik di era digital. Kehadiran empati, dialog, dan keterbukaan menjadi fondasi utama dalam membangun kepercayaan masyarakat.

Sherly menunjukkan bahwa kepemimpinan modern tidak lagi bertumpu pada kekuasaan simbolik semata, melainkan pada relasi kemanusiaan yang hidup dan bermakna. Di tengah arus komunikasi digital yang sering kali dangkal dan manipulatif, pendekatan humanis Sherly Tjoanda menghadirkan model kepemimpinan yang relevan, membumi, dan berorientasi pada manusia sebagai pusat komunikasi.

Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro.

Berkomentarlah secara bijaksana dan hindari menyinggung SARA. Komentar sepenuhnya menjadi tanggungjawab komentator.