Oleh: Salwa Devita Sari | Era digital saat ini membuat manusia tidak bisa jauh dengan media sosial, salah satunya TikTok. Platform ini tidak hanya digunakan sebagai sarana hiburan, tetapi juga ruang bagi individu untuk mengekspresikan diri, belajar, berbisnis, hingga membangun cara pandang terhadap berbagai aspek kehidupan.
Salah satu fenomena yang saat ini viral adalah konten video perbandingan perempuan sebelum dan sesudah menikah (before–after marriage). Konten ini menggunakan sound “Tetap Bukan Kamu” dari Raisa, khususnya pada bagian lirik “Apa kabarmu, kabarku baik saja”, dengan menampilkan sosok perempuan yang terlihat cantik dan terawat sebelum menikah, lalu digambarkan mengalami perubahan drastis setelah menikah dan memiliki anak.
Pola konten semacam ini dapat ditemukan pada beberapa akun TikTok, seperti @nubiheroes.id, @bungazizz, dan @rut.setiasih, serta banyak akun lainnya dengan format serupa. Format video yang serupa dan berulang tersebut kemudian memunculkan kekhawatiran tersendiri bagi perempuan yang belum menikah, khususnya dari kalangan Gen Z, yang mulai membayangkan pernikahan sebagai fase kehidupan yang menakutkan.
Bagi Gen Z yang masih berada di fase berfokus pada karir dan masa depan, paparan konten before-after marriage bukanlah suatu hiburan, melainkan mimpi buruk. Konten ini menjadikan Gen Z membayangkan bahwa pernikahan adalah fase kehidupan yang identik dengan kehilangan diri.
Ketakutan akan pernikahan pun muncul bukan hanya berasal dari pengalaman pribadi, tetapi juga dibentuk oleh paparan dan interaksi digital (Nisa, 2025). Dalam teori komunikasi, fenomena ini dapat dijelaskan menggunakan Teori Kultivasi yang dikemukakan oleh George Gerbner.
Teori ini menjelaskan bahwa paparan media dapat membentuk pandangan seseorang terhadap sesuatu. Menurut teori ini, seseorang yang terpapar media yang berlangsung secara terus-menerus dan berulang dapat membentuk cara pandang seseorang terhadap realitas sosial (Rahman & Hilmiyah, 2024).
Dalam hal ini, konten perbandingan diri seseorang sebelum dan sesudah menikah memberikan efek ketakutan terhadap pernikahan pada perempuan Gen Z. Perempuan gen Z menjadi heavy viewer perlahan membuat keyakinan bahwa menikah adalah fase yang menakutkan dan kehilangan kecantikannya.
Akibatnya, pernikahan tidak lagi dipandang sebagai pilihan hidup yang menyenangkan, melainkan ancaman bagi dirinya sendiri (Nisa, 2025). Proses kultivasi ini tidak berhenti pada video saja, namun diperkuat juga dengan komentar netizen, seperti “Gen Z tenangin diri lo”, “Alamak, matilah kita”, “emoh aku emoh”, “gen Z ketar ketir” bahkan ada yang menceritakan kejadian serupa di kolom komentar dan masih banyak lagi komentar yang merepresentasikan ketakutan. Kolom komentar menjadi penguat makna ketakutan terhadap pernikahan tidak hanya dirasakan secara pribadi, namun dirasakan juga oleh semua orang.
Hal ini dapat dilihat dalam penelitian terdahulu, fenomena ketakutan Gen Z terhadap pernikahan dikarenakan paparan konten. Penelitian tentang konten TikTok Marriage is Scary oleh Rahmawati (2025) menunjukkan bahwa paparan berulang terhadap suatu konten negatif mengenai pernikahan dapat membentuk persepsi generasi muda bahwa pernikahan identik dengan tekanan, kehilangan kebebasan, dan penurunan kualitas hidup (Rahmawati, 2025).
Penelitian ini sejalan dengan teori kultivasi yang menjelaskan bahwa paparan media secara terus-menerus dan berulang, mampu membentuk persepsi kepada seseorang mengenai dunia luar sama seperti apa yang dilihatnya di media.
Penelitian lain dari Nurchayati, et al (2024), menunjukkan bahwa paparan konten pernikahan baik positif maupun negatif, berpengaruh signifikan terhadap minat dan persepsi Gen Z terhadap pernikahan. Namun, konten dengan tema negatif cenderung lebih kuat mempengaruhi Gen Z karena didukung dengan visual, alur, dan komentar netizen.
Hal ini membuat individu tidak hanya menonton, tapi juga berpikir bahwa ketakutan terhadap pernikahan tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, tapi juga orang lain. Dengan demikian, pengalaman individu yang ditampilkan dalam konten dapat berkembang menjadi keyakinan bersama mengenai pernikahan (Nurchayati, et al, 2024).
Fenomena ini juga berkaitan dengan perilaku Gen Z yang cenderung menunda pernikahan, dibanding generasi sebelumnya. Hal ini dikarenakan terjadi pergeseran pandangan Gen Z terhadap pernikahan. Bagi gen Z, pernikahan tidak lagi menjadi prioritas dalam kehidupan. Hal ini didukung oleh laporan Badan Pusat Statistik (BPS), bahwa angka pernikahan di Indonesia mengalami penurunan.
Pada tahun 2023 jumlah pernikahan di Indonesia sebanyak 1.577.255, turun 128 ribu dari angka pernikahan pada tahun 2022 yang mencapai 1.705.348 (Badan Pusat Statistik, 2024). Pergeseran pandangan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, ekonomi, dan budaya. Bagi Gen Z, pernikahan bukan hanya suatu ikatan suci antara pria dan wanita, tapi juga kehidupan yang melibatkan tanggung jawab psikologi dan finansial yang lebih besar (Rahmawati, 2025).
Dalam konteks global, penurunan angka pernikahan juga terjadi di Jepang. Salah satu faktor yang sering disorot adalah masih kuatnya budaya patriarki yang membebankan peran domestik dan pengasuhan secara tidak seimbang kepada perempuan setelah menikah. Kondisi ini membuat pernikahan dipersepsikan sebagai ruang ketidakadilan, sehingga banyak perempuan memilih menunda atau bahkan menghindarinya.
Konten before–after marriage di TikTok kemudian berperan sebagai perantara yang memperkuat ketakutan tersebut. Melalui format video yang seragam dan berulang, media sosial membangun gambaran pernikahan sebagai fase yang penuh kehilangan bagi perempuan. Tanpa disadari, algoritma TikTok terus menyajikan konten serupa dan memperkuat pesan yang sama, sehingga membentuk pandangan bahwa yang terjadi di kehidupan nyata sama seperti yang ditampilkan oleh media.
Pada akhirnya, fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial khususnya TikTok, memiliki peran signifikan dalam membentuk persepsi Gen Z terhadap pernikahan. Oleh karena itu, sikap kritis dalam bermedia dan pengelolaan waktu penggunaan media menjadi hal yang penting.
Bukan untuk menjauhi media sosial, melainkan untuk menyadari bahwa realitas yang ditampilkan media bukanlah satu-satunya gambaran kehidupan. Tanpa sikap kritis, perempuan Gen Z berisiko membangun bayangan masa depan berdasarkan ketakutan yang dikonstruksi media, bukan berdasarkan pemahaman yang utuh dan reflektif terhadap realitas yang jauh lebih beragam.
Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro.
Sumber:
Nisa, Khoirun. 2025. Fenomena “Marriage is Scary” Bagi gen Z dalam Konten Dilan Janiar di TikTok. Jurnal Komunikasi: 3 (7), 377-387.
Nurchayati, Tri. dkk. (2024). Pengaruh Konten @HIRACHDR di TikTok terhadap Pandangan Pernikahan Bagi generasi Z. Jurnal Multidisiplin Inovatif: 8 (12), 482-487.
Rahmawati, Dina. 2025. Konstruksi Makna Pernikahan pada Kalangan Muslim Gen Z di Media Sosial: Studi Kasus Penonton Konten “Marriage is Scary” di TikTok. Jurnal pendidikan Sejarah dan Ilmu Ilmu Sosial: 9 (1), 82-94.
Rahman, A., dan Mifda, Hilmiyah. 2024. Media Sosial dan Masyarakat: Ditinjau dari Analisis Kultivasi Media. Komunida: Media Komunikasi dan Dakwa: 14 (1), 79-97.














