Mengapa Banyak Orang Lebih Percaya Diri di Media Sosial: Perspektif Social Information Processing Theory

Oleh: Tirza Nova Dianda | Media sosial telah menjadi ruang utama pembentukan identitas di era digital. Identitas tidak lagi hanya diproduksi melalui interaksi tatap muka, tetapi juga melalui unggahan, interaksi, dan jejak data di platform digital.

Artikel ini membahas fenomena pembentukan identitas digital pada pengguna media sosial dengan menggunakan Social Information Processing Theory (SIPT) yang dikembangkan oleh Joseph B. Walther.

Dengan merujuk pada temuan-temuan empiris mutakhir dari berbagai jurnal internasional, artikel ini menunjukkan bahwa meskipun komunikasi online memiliki keterbatasan isyarat nonverbal, pengguna mampu membangun citra diri yang kuat melalui strategi selektif, umpan balik sosial, dan adaptasi terhadap algoritma platform.

Temuan ini menegaskan relevansi SIPT dalam menjelaskan dinamika identitas digital, sekaligus menyoroti perlunya perluasan teori untuk mencakup pengaruh algoritma, ekonomi perhatian, dan konteks budaya. 

Dalam dua dekade terakhir, media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai ruang publik tempat individu membentuk dan menegosiasikan identitas. Profil Instagram, unggahan TikTok, serta aktivitas di Twitter/X menjadi representasi diri yang dapat diakses, diamati, dan dievaluasi oleh audiens luas.

Identitas digital, dengan demikian, bukan sekadar refleksi identitas offline, melainkan hasil konstruksi aktif yang dipengaruhi oleh fitur teknis platform, norma sosial, dan logika ekonomi digital. 

Robles-Carrillo (2024) menyebut identitas digital sebagai bentuk modal sosial baru yang menentukan tingkat partisipasi dan visibilitas individu di ruang daring. Identitas ini dibangun melalui kombinasi elemen visual seperti foto dan video, elemen tekstual seperti caption dan bio, serta metadata berupa waktu unggah, lokasi, dan tingkat keterlibatan audiens.

Studi Pérez-Torres et al. (2024) menunjukkan bahwa media sosial berfungsi sebagai digital social mirror yang membentuk cara individu menilai dirinya sendiri berdasarkan respons dan ekspektasi sosial yang mereka terima secara daring. 

Dikembangkan oleh Joseph B. Walther (1992; 1996), Social Information Processing Theory menjelaskan bahwa hubungan interpersonal dan pembentukan impresi tetap dapat terjadi dalam komunikasi berbasis komputer meskipun isyarat nonverbal terbatas.

Teori ini berangkat dari asumsi bahwa individu mampu beradaptasi dengan keterbatasan medium dengan memaksimalkan isyarat verbal, frekuensi interaksi, serta pengelolaan pesan secara strategis. Dalam konteks media sosial, adaptasi ini tampak melalui penggunaan bahasa, visual, dan pola interaksi yang dirancang untuk membangun kesan tertentu di mata audiens. 

Penelitian empiris mutakhir menunjukkan bahwa pembentukan identitas digital berlangsung melalui mekanisme selective self-presentation, yaitu pemilihan aspek diri tertentu untuk ditampilkan; audience design, yakni penyesuaian pesan dengan audiens yang dibayangkan; serta social feedback loops berupa likes, komentar, dan bagikan ulang yang memperkuat atau merevisi identitas yang ditampilkan.

Tinjauan sistematis Avci (2024) terhadap penggunaan media sosial pada remaja menemukan bahwa umpan balik positif memiliki pengaruh signifikan terhadap stabilitas dan arah perkembangan identitas digital, sementara umpan balik negatif berpotensi menimbulkan ketegangan identitas. 

Fenomena ini juga terlihat dalam kehidupan sehari-hari pengguna media sosial. Sejumlah penelitian dan laporan media menunjukkan bahwa banyak individu merasa lebih percaya diri dan ekspresif di ruang daring dibandingkan dalam interaksi tatap muka.

Di platform seperti Twitter/X, pengguna kerap mengekspresikan opini, emosi, dan identitas politik atau kultural secara terbuka, meskipun dalam kehidupan offline mereka cenderung lebih tertutup. Kondisi ini memperlihatkan bagaimana ruang digital menyediakan jarak psikologis yang memungkinkan individu mengelola citra diri secara lebih terkendali. 

Identitas digital tidak dibentuk di ruang netral. Algoritma platform memprioritaskan konten dengan engagement tinggi, sehingga pengguna terdorong untuk menyesuaikan presentasi dirinya agar sesuai dengan preferensi algoritmik. Fenomena ini menyebabkan identitas digital sering kali menjadi lebih performatif dan terpolarisasi, karena aspek yang “menjual” secara algoritmik lebih sering ditampilkan (Robles-Carrillo, 2024). 

Penelitian lintas budaya menunjukkan bahwa pembentukan identitas digital sangat dipengaruhi oleh norma sosial. Papaioannou et al. (2021) menemukan bahwa pengguna dari budaya dengan sensitivitas privasi tinggi cenderung menampilkan identitas profesional dan terkendali, sementara budaya lain lebih menekankan ekspresi emosional dan estetika personal. Hal ini menegaskan bahwa identitas digital merupakan produk hibrida antara teknologi dan konteks sosial. 

Dalam kerangka SIPT, keterbatasan isyarat nonverbal digantikan oleh cue substitution berupa teks, visual, dan artefak digital. Caption panjang, storytelling visual, serta konsistensi gaya unggahan berfungsi sebagai pengganti ekspresi nonverbal untuk menyampaikan kepribadian, nilai, dan emosi.

Strategi selective self-presentation memungkinkan pengguna menampilkan versi diri yang telah disunting dan dioptimalkan, sehingga impresi yang terbentuk secara daring dapat terasa lebih positif atau lebih intens dibandingkan interaksi tatap muka. 

SIPT pada awalnya menekankan bahwa pembentukan hubungan daring memerlukan waktu lebih lama. Namun, perkembangan fitur real-time seperti stories dan live streaming mempercepat akumulasi isyarat identitas. Frekuensi interaksi yang tinggi membuat identitas digital dapat terbentuk secara cepat dan terasa padat, meskipun komunikasi berlangsung secara termediasi. 

Meskipun kuat dalam menjelaskan mekanisme interpersonal, SIPT kurang memperhatikan peran algoritma, ekonomi perhatian, dan ketimpangan kuasa antara platform dan pengguna. Identitas digital saat ini tidak hanya dinegosiasikan antarindividu, tetapi juga dimediasi oleh sistem otomatis yang menentukan visibilitas dan nilai sosial konten. Oleh karena itu, SIPT perlu dikombinasikan dengan pendekatan platform studies dan ekonomi politik media digital. 

Kesimpulannya, pembentukan identitas digital di media sosial merupakan proses adaptif yang melibatkan strategi komunikasi, umpan balik sosial, dan struktur platform. Social Information Processing Theory tetap relevan dalam menjelaskan bagaimana identitas dapat terbentuk dalam komunikasi daring, namun perkembangan media sosial menuntut perluasan teori agar mampu menjelaskan peran algoritma dan konteks budaya secara lebih menyeluruh. Penelitian lanjutan berbasis data longitudinal dan lintas budaya menjadi penting untuk memahami dinamika identitas digital di masa depan. 

Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro.

Berkomentarlah secara bijaksana dan hindari menyinggung SARA. Komentar sepenuhnya menjadi tanggungjawab komentator.