Oleh: Brenda Zackiasa Wibisono | Ketika video dugaan penjarahan di beberapa gerai Alfamart dan Indomaret di Sumatera Utara beredar luas akhir November 2025, situasi publik langsung berubah menjadi riuh. Rekaman itu memperlihatkan warga memasuki minimarket yang tergenang banjir, mengambil makanan dan minuman, sementara rak-rak terlihat roboh dan pintunya terbuka.
Media melaporkan bahwa video tersebut direkam di wilayah Langkat dan Sibolga, dua daerah yang saat itu sedang mengalami banjir cukup parah. Cuplikan video yang beredar hanya menampilkan beberapa detik kejadian tanpa penjelasan apa pun. Tidak dijelaskan bagaimana kondisi toko sebelum direkam, mengapa pintu terbuka, apakah pegawai sudah mengevakuasi diri, atau apakah warga benar-benar tidak memiliki sumber makanan lain. Ketika video dilepas tanpa penjelasan, masyarakat otomatis masuk ke situasi penuh ketidakpastian.
Dalam teori Uncertainty Reduction Theory (URT), ketidakpastian semacam ini memicu reaksi alami manusia: berusaha memahami, menjelaskan, dan memprediksi perilaku orang lain. Karena manusia tidak nyaman berada dalam ruang kosong informasi, mereka akan mencari cara untuk mengisi kekosongan tersebut. Ketika video itu menyebar, publik tidak hanya melihat kejadian, tetapi juga menafsirkan isi video berdasarkan pengetahuan dan pengalaman pribadi.
Ada yang percaya bahwa warga terpaksa mengambil barang karena kelaparan dan tidak ada bantuan yang datang, ada pula yang menganggap peristiwa itu sebagai tindakan kriminal yang memanfaatkan kondisi darurat. Kedua reaksi itu muncul karena publik sedang berupaya mengurangi ketidakpastian dengan caranya masing-masing.
Dalam URT, ketika seseorang tidak memiliki cukup informasi, mereka menggunakan berbagai strategi untuk mengisi kekurangan itu. Sebagian orang mulai mencari berita tambahan, menggulir komentar, atau membaca potongan informasi dari akun yang tidak jelas sumbernya. Ini termasuk ke dalam active strategy, yaitu mencari informasi secara tidak langsung melalui pihak lain.
Ada pula yang hanya melihat ulang videonya, memperhatikan gerak-gerik orang dalam rekaman, dan menafsirkan sendiri tanpa mencari sumber lain. Ini disebut passive strategy, yaitu mengamati tanpa interaksi. Namun hal yang paling menarik adalah bagaimana sebagian orang kemudian membuat narasi sendiri sebuah bentuk pengurangan ketidakpastian yang sering kali menghasilkan kesimpulan yang salah.
Video viral itu juga memicu kondisi yang dalam teori URT dikenal sebagai anxiety uncertainty, yaitu situasi ketika ketidakpastian dan kecemasan muncul bersamaan. Banyak warga luar daerah mulai merasa khawatir: apakah saat daerah mereka dilanda banjir, keamanan minimarket juga akan terancam? Apakah bencana bisa memicu tindakan serupa di tempat lain? Ketika kecemasan muncul, kebutuhan untuk mengurangi ketidakpastian menjadi semakin kuat.
Orang menjadi lebih aktif membaca komentar, mencari klarifikasi, bahkan membela pandangan masing-masing dengan keras. Hal ini terlihat jelas di media sosial, di mana warganet saling berdebat tentang apakah tindakan dalam video itu salah atau bisa dimaklumi. Ketidakpastian yang tidak terjawab membuat orang menjadi jauh lebih emosional dalam menarik kesimpulan.
Dalam konteks ini, peran media sosial memperburuk keadaan. URT menjelaskan bahwa manusia cenderung membuat rencana dan prediksi untuk memahami perilaku orang lain. Namun ketika informasi yang beredar tidak lengkap, prediksi itu menjadi tidak stabil. Video singkat yang diunggah ke media sosial sering kali tidak menunjukkan keseluruhan situasi.
Dalam kasus ini, publik tidak melihat detik-detik sebelum toko itu terbuka, tidak mengetahui apakah ada surat izin dari pengelola, tidak tahu apakah bantuan logistik memang belum datang, atau apakah warga yang terekam memang sedang terjebak tanpa makanan. Karena video tidak memberi konteks, publik mengisi ruang kosong itu dengan asumsi. Itulah mekanisme dasar URT bekerja: semakin sedikit informasi, semakin besar kebutuhan orang untuk menafsirkan ulang.
Padahal informasi tambahan dari pihak berwenang baru muncul beberapa jam kemudian. Aparat menjelaskan bahwa sebagian toko memang dalam kondisi tidak terjaga karena banjir membuat pegawai harus dievakuasi. Dalam beberapa kasus, pintu ruko rusak akibat tekanan air, membuat toko terlihat seolah sengaja dibuka.
Media juga menyebut bahwa warga mengambil makanan seperti air mineral dan mi instan, bukan barang elektronik atau rokok. Namun klarifikasi ini baru muncul setelah video viral dan opini publik terlanjur terbentuk. Ketika ketidakpastian sudah diisi oleh asumsi, klarifikasi sering kali tidak lagi cukup kuat untuk mengubah pandangan masyarakat.
Ini memperlihatkan bagaimana teori URT berlaku bukan hanya pada komunikasi antarindividu, tetapi juga pada komunikasi publik di era digital. Publik menonton video tersebut layaknya sedang bertemu orang asing yang belum mereka pahami. Dalam keadaan seperti itu, manusia ingin tahu alasan di balik perilaku orang dalam video—apakah tindakan itu benar, salah, dapat dimaklumi, atau menyalahi aturan.
Sebagaimana URT menjelaskan, ketika seseorang dihadapkan pada perilaku yang tidak biasa, tingkat ketertarikan untuk mencari informasi menjadi lebih tinggi. Banjir biasanya memunculkan berita tentang evakuasi dan bantuan, bukan peristiwa seperti dalam video itu. Karena perilaku yang muncul dianggap tidak biasa, orang menjadi lebih aktif mencari penjelasan, dan ketegangan emosional meningkat.
Fenomena ini juga memperlihatkan bahwa dalam situasi bencana, bukan hanya logistik dan evakuasi yang penting, tetapi juga kejelasan informasi. Ketika bantuan pemerintah belum merata dan warga mengalami keterbatasan makanan, ketidakpastian di lapangan dapat memunculkan perilaku yang tidak terduga.
Dalam kasus ini, tindakan warga yang mengambil barang dari minimarket mungkin terjadi karena ketidakpastian tentang kapan bantuan datang, bagaimana situasi ke depan, dan apakah mereka bisa bertahan tanpa suplai makanan.
Ketika seseorang tidak tahu apa yang akan terjadi, mereka cenderung mencari cara untuk memperkecil risiko. Teori URT menyebutnya sebagai bentuk perencanaan perilaku saat menghadapi ketidakpastian tinggi. Sayangnya, rencana untuk mengatasi ketidakpastian itu kadang berbenturan dengan aturan hukum dan nilai sosial.
Akhirnya, opini publik tentang kasus ini menjadi terbelah. Sebagian menganggapnya tindakan kriminal, sebagian lain melihatnya sebagai konsekuensi dari keterbatasan informasi, rasa takut, dan kelangkaan bantuan. Teori URT menjelaskan mengapa perbedaan opini ini muncul: setiap orang mengurangi ketidakpastian dengan cara yang berbeda.
Ada yang mengandalkan empati, ada yang berpegang pada aturan, ada yang menilai dari pengalaman pribadi, dan ada yang hanya mengikuti komentar yang paling banyak disukai di media sosial. Setiap upaya mengurangi ketidakpastian menghasilkan cara pandang yang berbeda pula.
Kasus video dugaan penjarahan minimarket saat banjir Sumatra Utara mengajari kita bahwa ketidakpastian dapat membuat publik menilai sesuatu secara tidak proporsional. Tanpa konteks dan informasi lengkap, masyarakat mudah terdorong membuat kesimpulan cepat.
URT menunjukkan bahwa manusia selalu berusaha memahami sesuatu yang tidak pasti, namun upaya tersebut bisa saja membawa pada penafsiran yang tidak tepat. Di tengah bencana, informasi yang jelas dan cepat bukan hanya soal menyampaikan fakta, tetapi juga soal mencegah kesalahpahaman yang berpotensi memperburuk keadaan sosial.
Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro.















